Kamis, 22 Maret 2018

Pengertian, Konsep Dan Model Ekonomi Makro




Ekonomi Makro atau makro-ekonomi adalah studi tentang ekonomi secara keseluruhan. Makro-ekonomi untuk menjelaskan perubahan ekonomi yang mempengaruhi banyak masyakarakat, perusahaan dan pasar. Makroekonomi dapat digunakan untuk menganalisis cara terbaik untuk mempengaruhi tujuan kebijakan seperti pertumbuhan ekonomi, stabilitas harga, tenaga kerja dan pencapaian neraca berkelanjutan.
Meskipun ekonomi makro merupakan bidang kajian ata pembelajaran yang luas, ada dua bidang penelitian yang mencirikan disiplin ini, kegiatan untuk mempelajari penyebab dan efek dari fluktuasi jangka pendek penerimaan negara (siklus bisnis), dan kegiatan untuk mempelajari faktor-faktor penentu pertumbuhan ekonomi jangka panjang (meningkatkan pendapatan Nasional). Model ekonomi makro yang ada dan ada prediksi yang jamak digunakan oleh pemerintah dan perusahaan-perusahaan besar untuk membantu dalam pengembangan dan evaluasi kebijakan ekonomi dan strategi bisnis.
Konsep Dasar Ekonomi Makro
Makro-ekonomi mencakup berbagai konsep dan variabel, tetapi selalu ada tiga topik utama untuk penelitian ekonomi makro. Teori fenomena makro-ekonomi biasanya terhubung ke output, pengangguran dan inflasi. Melampaui teori makro-ekonomi, topik ini juga sangat penting bagi semua pelaku ekonomi, termasuk pekerja, konsumen dan produsen.
Pengeluaran Dan Pendapatan
Output atau keluaran nasional adalah nilai total seluruh produksi negara pada periode yang berwenang. Yang semuanya diproduksi dan dijual menghasilkan pendapatan. Oleh karena itu, output dan pendapatan biasanya dianggap setara, dan dua istilah yang sering digunakan secara bergantian ternyata. Output dapat diukur sebagai jumlah pendapatan, atau, bisa dilihat dari segi produksi dan diukur sebagai total nilai barang dan jasa atau bisa juga dari jumlah semua nilai tambah di dalam negeri.
Output atau keluaran ekonomi makro biasanya diukur dengan Produk Domestik Bruto (PDB) atau salah satu rekening nasional. Ekonom yang tertarik kenaikan jangka panjang dalam output akan mempelajari pertumbuhan ekonomi.
Kemajuan teknologi, mesin dan akumulasi modal lainnya, serta pendidikan yang lebih baik dan modal manusia semua akan menyebabkan output ekonomi yang lebih besar dalam perjalanan waktu. Namun, output tidak selalu naik secara konsisten.
Siklus bisnis dapat menyebabkan penurunan output jangka pendek disebut resesi. Ekonom mencari kebijakan ekonomi makro yang bisa mencegah perekonomian jatuh ke dalam resesi dan akhirnya dapat memacu pertumbuhan jangka panjang yang lebih cepat.
Inflasi dan Deflasi
Kenaikan harga disebuah ekonomi secara umum disebut inflasi. Ketika harga turun, maka deflasi. Ekonom mengukur perubahan harga dengan menggunakan indeks harga. Inflasi dapat terjadi ketika suhu menjadi terlalu panas dan ekonomi tumbuh terlalu cepat. Serupa dengan ini, perekonomian merosot dapat menyebabkan deflasi.
Bank sentral yang mengatur ketersediaan uang suatu negara, selalu berusaha untuk menghindari perubahan tingkat harga menggunakan kebijakan moneter. Dengan menaikkan suku bunga atau mengurangi ketersediaan uang dalam perekonomian akan mengurangi inflasi. Inflasi dapat menyebabkan peningkatan ketidakpastian dan konsekuensi negatif lainnya. Deflasi bisa menurunkan output ekonomi. Bank sentral akan mengejar stabilitas harga untuk melindungi perekonomian dari efek negatif pada fluktuasi harga.
Perubahan tingkat harga dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Teori kuantitas uang menyatakan bahwa pergerakan tingkat harga secara langsung berkaitan dengan jumlah uang beredar. Fluktuasi jangka pendek juga mungkin berhubungan dengan faktor-faktor moneter, tapi perubahan permintaan agregat dan penawaran agregat juga dapat mempengaruhi tingkat harga. Sebagai contoh, penurunan permintaan akibat resesi dapat menyebabkan indeks harga rendah dan deflasi. Mengejutkan tawaran negatif, seperti krisis minyak, akan menurunkan penawaran agregat dan menyebabkan inflasi.
Model ekonomi makro
Agregat demand-supply agregat
Model AD-AS telah menjadi panduan standar model untuk menjelaskan ekonomi makro. Model ini menunjukkan indeks harga dan indeks output aktual pada titik pertemuan dari permintaan agregat dan penawaran agregat. Kurva permintaan agregat miring ke bawah menunjukkan bahwa banyak dari output yang diminta pada tingkat harga yang lebih rendah.
Kurva miring ke bawah adalah hasil yang terjadi karena tiga efek: Pigou Effect, yang menyatakan bahwa ketika harga asli jatuh, kemakmuran asli naik, yang mengakibatkan meningkatnya permintaan barang oleh konsumen; Efek Keynes, yang menyatakan bahwa ketika harga jatuh, permintaan uang akan turun dan akan menyebabkan suku bunga yang lebih rendah, investasi pinjaman dan konsumsi akan meningkat; dan efek dari ekspor bersih, yang menyatakan bahwa ketika harga naik, barang-barang domestik menjadi lebih mahal bila dilihat dari sisi perbandingan dengan pelanggan asing dan sebagai akibat dari itu, ekspor menurun.

Senin, 12 Maret 2018

MAKLAH AKUNTANSI: PRODUK BERSAMA DAN PRODUK SAMPINGAN



BAB II
PEMBAHASAN

2.1.      KONSEP PRODUK BERSAMA DAN PRODUK SAMPINGAN
Biaya bersama dapat diartikan sebagai biaya overhead bersama yang harus dialokasikan ke berbagai departemen, baik dalam perusahaan yang kegiatan produksinya berdasarkan pesanan ataupun secara massa.
Biaya produk bersama juga bisa diartikan sebagai biaya yang dikeluarkan sejak saat mula-mula bahan baku diolah sampai dengan saat berbagai macam produk dapat dipisahkan identitasnya. Biaya produk bersama ini terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik.
Biaya bersama digunakan untuk memproduksi berbagai produk, yaitu:
a.    Produk Bersama (joint-product)
Produk bersama adalah beberapa macam produk yang dihasilkan bersama- sama atau serempak dengan menggunakan satu macam atau beberapa macam bahan baku, tenaga kerja dan fasilitas pabrik yang sama dan masukkan (input) tersebut tidak diikuti jejaknya pada setiap macam produk tertentu. 
Contoh: Pabrik penyulingan minyak mentah (crude oil) menghasikan minyak siap dikonsumsi berupa minyak gasolin, karosine, minyak diesel (solar), minyak bakar, minyak tanah, dll.
b.    Produk Sampingan (by-product)
Produk sampingan juga bisa diartikan sebagai produk yang bukan tujuan utama operasi perusahaan tetapi tidak dapat dihindarkan terjadinya dalam proses pengolahan produk disebabkan sifat bahan yang diolah atau karena sifat pengolahan produk, kuantitas dan nilai produk sampingan relatif kecil dibandingkan dengan nilai keseluruhan produk.
Contoh: pada pabrik penggergajian kayu, kayu lapis dan papan kayu merupakan produk utama, sedangkan serbuk gergaji dan kayu bakar merupakan produk sampingan.

c.   Produk Sekutu (coproduct)
        Produk sekutu dapat didefinisikan sebagai beberapa macam produk yang dihasilkan dalam waktu yang sama, tetapi tidak berasal dari proses pengolahan yang sama atau tidak dari bahan baku yang sama.
        Contoh : Pabrik penggergajian dapat menghasilkan papan kayu dan kayu lapis dari berbagai jenis kayu log (kayu gelonggongan) yang diproses sehingga macam produk yang dihasilkan dapat berupa papan kayu jati, kayu meranti, kayu kanfer, begitu pula dapat dihasilkan kayu lapis jati, meranti atau kanfer.
Sifat Produk Bersama, Produk Sampingan Dan Produk Sekutu
Produk bersama dan produk sekutu memiliki karakteristik sebagai berikut:
a.        Produk bersama dan produk sekutu merupakan tujuan utama kegiatan produksi.
b.        Dalam mengolah produk bersama, produsen tidak dapat menghindarkan diri untuk menghasilkan semua jenis produk bersama.
c.         Produk diproses secara bersamaan dan setiap produk mempunyai nilai yang relatif sama antara satu dengan yang lainnya.
d.       Setiap produk mempunyai hubungan fisik yang sangat erat dalam proses produksi.
e.        Adanya Split-Off Point 
f.         Biaya produk bersama bersifat homogen untuk seluruh produk sampai pada titik pisah.
g.        Nilai jual dari masing-masing produk bersama relatif sama sehingga tidak ada produk yang dianggap sebagi produk utama dan produk sampingan.
                  Produk sampingan dapat digolongkan sesuai dengan dapat tidaknya produk tersebut dijual pada saat terpisah dari produk utama.
a.       Produksi sampingan yang dapat dijual setelah terpisah dari produk utama, tanpa memerlukan pengolahan lebih lanjut.
b.       Produk sampingan yang memerlukan proses pengolahan lebih lanjut setelah terpisah dari produk utama.  



2.2.      AKUNTANSI PRODUK BERSAMA
Masalah pokok akuntansi harga pokok bersama adalah penentuan proporsi total biaya produksi yang harus dibebankan kepada berbagai macam produk bersama.
Biaya produk bersama dialokasikan ke setiap produk bersama menggunakan metode :
a.  Metode Nilai Pasar / Nilai Jual Relatif
Metode ini adalah metode yang sangat populer karena dengan argumennya bahwa harga produk merupakan manifestasi dari biaya produksinya. Metode ini mengasumsikan bahwa setiap produk yang dihasilkan dalam proses produksi bersama memilki nilai jual atau nilai pasar yang berbeda.
Metode ini berpendapat bahwa jika salah satu produk terjual lebih tinggi daripada yang lainnya, hal itu terjadi karena biaya yang dikeluarkan untuk memproduksinya juga lebih tinggi dibandingkan produk lain.
b.  Metode rata-rata biaya per satuan
Metode ini berupaya untuk mendistribusikan total biaya produksi gabungan ke berbagai produk atas dasar biaya per unit. Metode ini digunakan jika dari satu proses produksi bersama dihasilkan beberapa produk yang bisa diukur dalam satuan yang sama meskipun dalam kualitas yang berbeda-beda
c.  Metode rata-rata tertimbang
Penentuan alokasi biaya bersama pada setiap produk didasarkan atas perkalian jumlah unit produk dengan angka penimbang, dan hasilnya digunakan sebagai dasar untuk alokasi. Penentuan angka penimbangan untuk tiap-tiap produk didasarkan pada jumlah bahan yang dipakai, sulitnya pembuatan produk, waktu yang dikonsumsi, dan pembedaan jenis tenaga kerja yang dipakai untuk tiap jenis produk yang dihasilkan.
d.  Metode unit kuantitatif / satuan fisik
Metode kuantitatif berupaya mendistribusikan total biaya gabungan berdasarkan satuan ukuran tertentu seperti kilogram, ton, liter, meter dan sebagainya. Metode ini beranggapan bahwa setiap produk dapat diidentifikasi sesuai dengan tingkat pemanfaatan bahan baku dalam ukuran satuan yang sama.

2.3. AKUNTANSI PRODUK SAMPINGAN
Dalam produk sampingan, yang menjadi permasalahan adalah bagaimana memperlakukan pendapatan penjualan produk sampingan tersebut.
Pengakuan adanya produk sampingan ini menyangkut perlakuan terhadap harga pokok produk sampingan, biaya untuk memproses produk sampingan, dan hasil penjualan produk sampingan. Metode-metode akuntansi yang dapat diterima untuk menetapkan biaya produk sampingan dibagi dalam dua kategori, yaitu :

a.      Metode Tanpa Harga Pokok (Non-Cost Methods)
       Dalam metode ini, harga pokok produk sampingan atau persediannya tidak diperhitungkan, tetapi memperlakukan pendapatan penjualan produk sampingan sebagai pendapatan atau pengurang biaya produksi produk utama.
      Metode tanpa harga pokok adalah suatu metode dalam perhitungan produk sampingan tidak memperoleh alokasi biaya bersama dari pengolahan produk sebelum dipisah.
Pendapatan penjualan produk sampingan dicatat sebagai penghasilan  diluar usaha.
      Dalam metode ini pendapatan yang diperoleh dari penjualan produk sampingan dikurangi dengan returnya, dicatat dalam rekening “Pendapatan Penjualan Produk Sampingan” dan pada akhir periode akuntansi ditutup ke rekening Rugi-Laba. Rekening pendapatan penjualan produk sampingan dicantumkan dalam laporan Laba-Rugi pada kelompok penghasilan di luar usaha (other income).
Metode ini cocok bila digunakan pada perusahaan yang:
a)      Nilai produk sampingnya tidak begitu penting atau tidak dapat ditentukan.
b)      Penggunaan metode yang lebih teliti tidak sebanding dengan manfaat yang diperoleh
c)      Pemisahan produk sampingan dari produk utama tidak begitu jelas dan pembebananharga     tidak mengakibatkan perbedaan yang mencolok pada harga pokok produk utama.
d)     Terdapat beberapa kekurangan pada metode pendapatan penjualan produk sampingan dicatat sebagai penghasilan diluar usaha, yaitu:
e)      Apabila pada akhir periode akuntansi terdapat persediaan pokok sampingan, maka timbul masalah penilaian persediaan untuk tujuan pembuatan neraca perusahaan
f)       Dapat mengakibatkan perbandingan pendapatan dan biaya yang kurang tepat karena perbedaan periode akuntansi.
g)      Tidak adanya pengawasan dari terhadap persediaaan produk sampingan mengakibatkan rawan terjadi penggelapan.
h)      Dapat mengaburkan gambaran menyeluruh tentang hasil usaha perusahaan.
Pendapatan penjualan produk sampingan dicatat sebagai tambahan pendapatan penjualan produk utama.
Semua biaya produksi dikurangkan dari pendapatan penjualan semua produk (baik utama maupun sampingan) untuk mendapatkan laba bruto.
b.     Metode-Metode Harga Pokok (Cost Methods)
Dalam metode ini pengalokasian biaya produk sampingan hampir sama dengan produk bersama yaitu sebagian biaya bersama dialokasikan kepada produk sampingan dan menentukan harga  pokok persediaan produk sampingan dengan biaya yang dialokasikan tersebut. Ada dua metode yang berdasarkan pada metode harga pokok, yaitu:
1.     Metode biaya pengganti
Metode biaya pengganti biasanya digunakan pada perusahaan yang produk sampingannya digunakan sendiri, sehingga tidak perlu membeli bahan dari pemasok luar.                       
2.     Metode pasar
Metode pasar juga disebut dengan metode pembatalan biaya (reversal cost methods), pada metode nilai pasar yang dikurangkan adalah taksiran nilai pasar produk sampingan. Metode ini berusaha untuk menaksir biaya produk sampingan berdasarkan nilai pasarnya.