BAB II
PEMBAHASAN
2.1. KONSEP PRODUK BERSAMA DAN PRODUK
SAMPINGAN
Biaya bersama dapat diartikan sebagai biaya overhead bersama yang harus
dialokasikan ke berbagai departemen, baik dalam perusahaan yang kegiatan produksinya
berdasarkan pesanan ataupun secara massa.
Biaya produk bersama juga bisa diartikan sebagai biaya yang
dikeluarkan sejak saat mula-mula bahan baku diolah sampai dengan saat berbagai
macam produk dapat dipisahkan identitasnya. Biaya produk bersama ini terdiri
dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik.
Biaya bersama digunakan untuk memproduksi berbagai produk, yaitu:
a. Produk
Bersama (joint-product)
Produk bersama adalah beberapa macam produk yang dihasilkan bersama- sama
atau serempak dengan menggunakan satu macam atau beberapa macam bahan baku,
tenaga kerja dan fasilitas pabrik yang sama dan masukkan (input) tersebut tidak
diikuti jejaknya pada setiap macam produk tertentu.
Contoh: Pabrik penyulingan minyak mentah (crude oil) menghasikan minyak
siap dikonsumsi berupa minyak gasolin, karosine, minyak diesel (solar),
minyak bakar, minyak tanah, dll.
b. Produk
Sampingan (by-product)
Produk sampingan juga bisa diartikan sebagai produk yang bukan tujuan
utama operasi perusahaan tetapi tidak dapat dihindarkan terjadinya dalam proses
pengolahan produk disebabkan sifat bahan yang diolah atau karena sifat
pengolahan produk, kuantitas dan nilai produk sampingan relatif kecil
dibandingkan dengan nilai keseluruhan produk.
Contoh: pada pabrik
penggergajian kayu, kayu lapis dan papan kayu merupakan produk utama, sedangkan
serbuk gergaji dan kayu bakar merupakan produk sampingan.
c. Produk
Sekutu (coproduct)
Produk sekutu dapat didefinisikan sebagai beberapa macam produk yang
dihasilkan dalam waktu yang sama, tetapi tidak berasal dari proses pengolahan
yang sama atau tidak dari bahan baku yang sama.
Contoh : Pabrik penggergajian dapat menghasilkan papan kayu dan kayu lapis dari
berbagai jenis kayu log (kayu gelonggongan) yang diproses sehingga macam produk
yang dihasilkan dapat berupa papan kayu jati, kayu meranti, kayu kanfer, begitu
pula dapat dihasilkan kayu lapis jati, meranti atau kanfer.
Sifat Produk Bersama,
Produk Sampingan Dan Produk Sekutu
Produk bersama dan produk sekutu memiliki karakteristik sebagai berikut:
a.
Produk bersama dan produk sekutu merupakan tujuan utama kegiatan produksi.
b.
Dalam mengolah produk bersama, produsen tidak dapat menghindarkan diri
untuk menghasilkan semua jenis produk bersama.
c.
Produk diproses secara bersamaan dan setiap produk mempunyai nilai
yang relatif sama antara satu dengan yang lainnya.
d. Setiap produk mempunyai hubungan fisik yang sangat erat dalam proses
produksi.
e.
Adanya Split-Off Point
f.
Biaya produk bersama bersifat homogen untuk seluruh produk sampai pada
titik pisah.
g.
Nilai jual dari masing-masing produk bersama relatif sama sehingga tidak
ada produk yang dianggap sebagi produk utama dan produk sampingan.
Produk sampingan dapat digolongkan
sesuai dengan dapat tidaknya produk tersebut dijual pada saat terpisah dari
produk utama.
a. Produksi sampingan yang dapat dijual setelah terpisah dari produk utama,
tanpa memerlukan pengolahan lebih lanjut.
b. Produk sampingan yang memerlukan proses pengolahan lebih lanjut
setelah terpisah dari produk utama.
2.2. AKUNTANSI
PRODUK BERSAMA
Masalah pokok akuntansi harga pokok bersama adalah penentuan proporsi total
biaya produksi yang harus dibebankan kepada berbagai macam produk bersama.
Biaya produk bersama dialokasikan ke setiap produk bersama
menggunakan metode :
a. Metode Nilai
Pasar / Nilai Jual Relatif
Metode ini adalah metode yang sangat populer karena dengan argumennya bahwa
harga produk merupakan manifestasi dari biaya produksinya. Metode ini
mengasumsikan bahwa setiap produk yang dihasilkan dalam proses produksi bersama
memilki nilai jual atau nilai pasar yang berbeda.
Metode ini berpendapat bahwa jika salah satu produk terjual lebih tinggi
daripada yang lainnya, hal itu terjadi karena biaya yang dikeluarkan untuk
memproduksinya juga lebih tinggi dibandingkan produk lain.
b. Metode rata-rata biaya per
satuan
Metode ini
berupaya untuk mendistribusikan total biaya produksi gabungan ke berbagai
produk atas dasar biaya per unit. Metode ini digunakan jika dari satu
proses produksi bersama dihasilkan beberapa produk yang bisa diukur dalam
satuan yang sama meskipun dalam kualitas yang berbeda-beda
c. Metode
rata-rata tertimbang
Penentuan alokasi biaya bersama pada setiap produk didasarkan atas
perkalian jumlah unit produk dengan angka penimbang, dan hasilnya digunakan
sebagai dasar untuk alokasi. Penentuan angka penimbangan untuk tiap-tiap produk
didasarkan pada jumlah bahan yang dipakai, sulitnya pembuatan produk, waktu
yang dikonsumsi, dan pembedaan jenis tenaga kerja yang dipakai untuk tiap jenis
produk yang dihasilkan.
d. Metode
unit kuantitatif / satuan fisik
Metode kuantitatif berupaya mendistribusikan total biaya gabungan
berdasarkan satuan ukuran tertentu seperti kilogram, ton, liter, meter dan
sebagainya. Metode ini beranggapan bahwa setiap produk dapat
diidentifikasi sesuai dengan tingkat pemanfaatan bahan baku dalam ukuran satuan
yang sama.
2.3. AKUNTANSI PRODUK
SAMPINGAN
Dalam produk sampingan, yang menjadi permasalahan adalah bagaimana
memperlakukan pendapatan penjualan produk sampingan tersebut.
Pengakuan adanya produk sampingan ini menyangkut perlakuan terhadap harga
pokok produk sampingan, biaya untuk memproses produk sampingan, dan hasil
penjualan produk sampingan. Metode-metode akuntansi yang dapat diterima untuk
menetapkan biaya produk sampingan dibagi dalam dua kategori, yaitu :
a. Metode Tanpa Harga Pokok (Non-Cost Methods)
Dalam metode ini, harga pokok produk
sampingan atau persediannya tidak diperhitungkan, tetapi memperlakukan
pendapatan penjualan produk sampingan sebagai pendapatan atau pengurang biaya
produksi produk utama.
Metode tanpa harga pokok adalah suatu
metode dalam perhitungan produk sampingan tidak memperoleh alokasi biaya
bersama dari pengolahan produk sebelum dipisah.
Pendapatan penjualan produk sampingan dicatat sebagai penghasilan
diluar usaha.
Dalam metode ini
pendapatan yang diperoleh dari penjualan produk sampingan dikurangi dengan
returnya, dicatat dalam rekening “Pendapatan Penjualan Produk Sampingan” dan
pada akhir periode akuntansi ditutup ke rekening Rugi-Laba. Rekening pendapatan
penjualan produk sampingan dicantumkan dalam laporan Laba-Rugi pada kelompok
penghasilan di luar usaha (other income).
Metode ini cocok bila digunakan pada perusahaan yang:
a) Nilai produk sampingnya tidak begitu penting atau tidak dapat ditentukan.
b) Penggunaan metode yang lebih teliti tidak sebanding dengan manfaat yang
diperoleh
c) Pemisahan produk sampingan dari produk utama tidak begitu jelas dan
pembebananharga tidak mengakibatkan perbedaan yang
mencolok pada harga pokok produk utama.
d) Terdapat beberapa kekurangan pada metode pendapatan penjualan produk
sampingan dicatat sebagai penghasilan diluar usaha, yaitu:
e) Apabila pada akhir periode akuntansi terdapat persediaan pokok sampingan,
maka timbul masalah penilaian persediaan untuk tujuan pembuatan neraca
perusahaan
f) Dapat mengakibatkan perbandingan pendapatan dan biaya yang kurang tepat
karena perbedaan periode akuntansi.
g) Tidak adanya pengawasan dari terhadap persediaaan produk sampingan
mengakibatkan rawan terjadi penggelapan.
h) Dapat mengaburkan gambaran menyeluruh tentang hasil usaha perusahaan.
Pendapatan penjualan
produk sampingan dicatat sebagai tambahan pendapatan penjualan produk utama.
Semua biaya produksi
dikurangkan dari pendapatan penjualan semua produk (baik utama maupun
sampingan) untuk mendapatkan laba bruto.
b. Metode-Metode Harga
Pokok (Cost Methods)
Dalam metode ini pengalokasian biaya produk sampingan hampir sama dengan
produk bersama yaitu sebagian biaya bersama dialokasikan kepada produk
sampingan dan menentukan harga pokok persediaan produk sampingan dengan
biaya yang dialokasikan tersebut. Ada dua metode yang berdasarkan pada metode
harga pokok, yaitu:
1. Metode biaya pengganti
Metode biaya pengganti biasanya digunakan pada perusahaan yang produk
sampingannya digunakan sendiri, sehingga tidak perlu membeli bahan dari pemasok
luar.
2. Metode pasar
Metode pasar juga disebut dengan metode pembatalan biaya (reversal cost
methods), pada metode nilai pasar yang dikurangkan adalah taksiran nilai pasar
produk sampingan. Metode ini berusaha untuk menaksir biaya produk
sampingan berdasarkan nilai pasarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar