Minggu, 11 Februari 2018

FAKTOR INDIVIDU DALAM ORGANISASI



FAKTOR INDIVIDU DALAM ORGANISASI
Faktor Individu Dalam Organisasi
Faktor individu dan implementasi rencana organisasi
Factor apakah yang paling menentukan dalam implementasi rencana oraganisai? Apabila dalam manajemen SDM perusahaan berusaha mendapatkan tenaga kerja yang terbaik untuk dapt bekerja sesuai dengan jabatan-jabatan yang ada dalam organisasi, maka dengan demikian langakah implementasinya sangat6 ditentuikan oleh sejauh mana SDM perusahaan atau tenaga kerja yang telah dipilih dan di tempatakan tersebut menunujukkan kinerja yang terbaik. Dngan demikian, maka factor SDM kembali menjadi kunci penting dalam langkah implementasi. Jika organisasi adalah kumpulan orang yang bekerja sama dalam mencapai tujuan. Maka siapakah kumpulan orang tersebut? tak lain adalah apa yang telah di bahas sebagai tenaga keraja atau sumber daya manusia. Memandang sumber daya manusia berarti individu-individu yang memiliki karakteristiknya masing-masing. Jika demikian halnya, maka karekteristik individu akan sangat menentukan bagaimana bagaimana langakah implementasi akan di jalankan. Bisa di simpulkan bahwa implentasi dari rencana organisasi sangat bergantung kepada karakteristik individu yang terdapat dalam organisasi. Oleh karena itu perusahaan perlu memahami lebih jauh mengenai karakteristik individu tersebut, termasuk sikap dan prilaku dari setiap individu perusahaan.

PEMBAHASAN
i.   Memahami individu dan organisasi

a.      Kontribusi dan kompensasi
                                Ada dua konsep yang mendasari mengapa factor individu perlu untuk di pelajari dan di pahami sehubungan dengan manajemen perusahaan, khususnya dalam fungsi implementasi dan fungsi perusahaan. Dua konsep ini adalah kontribusi, yaitu apa yang akan di berikan oleh individu bagi organisasi. Sebaliknya, kompensasinya, yaitu apa yang akan diberikan oleh organisasi bagi individu.kedua konsep ini akan saling mempengaruhi dalam hal implimentasi rencana organisasi.
b.      Tiga Faktor yang terkait dengan Individu dalam Organisasi
            Selain dua konsep di atas, ada tiga factor lain yang perlu kita pahami lebih lanjut mengenai factor individu dalam organisasi. Ketiga hal tersebut adalah:
1.      Kontrak spikologis
            yang di maksud mkontrak spikologis adalah suatu kesepakatan tak tertulis antara individu dan organisasi/pewrusahaan.kesepakatan tak tertulis tersebut adalah secara spikologis tenaga kerja tersebut akan memberikan hal yang terbaik bagi organisasi. Sebaliknya, individu tersebut memiliki semacam pengharapan kepada organisasi.
2.      Kesesuaian tenaga kerja yang di butuhkan perusahaan
Kesuaian tenaga kerja yang dibutuhkan perusahaan terkait dengan factor individu dari tenaga kerja. Dalam kenyataan, perusahaan tidak selalu mendapatkan tenaga kerja yang benar-benar sesuai harapan dan tuntutan dalam pekerjaan. Hal tersebut bisa di karenakan individu benar-benar tidak ada yang sempurna.
3.      Keragaman individu dalam organisasi
Manusia di takdirkan tidak sama, baik dari sisi belakang biologisnya,pendidikan, karakteristik setiap individu tenaga kerja. Oleh karena itu perusahaan perlu memahami keragaman ini secara lebih terbuka dan menerimanya sebagai dinamika yang terdapat dalam organisasi manapun.
c. Faktor Individu dan Kepribadian
            Kepribadian atau personality pada dasarnya merupakan karakteristik psikologi dan prilaku dari individu yangb sifatnya permanent yang membedakan satu individu dengan individu lainnya. Sedangkan prilaku merupakan bentuk perwujudan tingkah laku dari individu yang di tentukan oleh kepribadiannya masing-masing. Di antara pemahaman yang harus diketahui para manager adalah apa yang dinamakan sebagai “model lima dimensi mengeanai kepribadian”( the big five of personality), sebagaimana yang di kemukakan oleh griffin(2000). Kelima jenis prilaku adalah:
agreeableness(tingkat persetujuan),yaitu tingkat kemampuan individu dalam berinteraksi dan bekerja dengan orang lain.
Conscistiousness(tingkat kesadaran dan keseriusan), yaitu keseriusan individu terhadap rencana pencapaian tujuan dari organisasi.
negative emotion(tingkat emosi negative),yaitu tingkat emosi yang negative merujuk kepada ketidakstabilan emosi yang di milki oleh individu dalam pekerjaan.
Extravertion(tingkat keleluasaan dan kenyamanan),yaitu prilaku yang merujuk kepada kemampuan individu untuk merasa nyaman dan leluasa bagi orang lain untuk berinteraksi dengannya.
Openness(tingkat keterbukaan), yaitu tingkat keterbukaan merujuk kepada prilaku individu untuk bersikap terbuka terhadap orang lain.
d.      Beberapa Perilaku lain dari Individu
Selain prilaku kelima prilaku yang di jelaskan dalam model lima dimnensi kepribadian di atas. Terdapat beberapa prilaku lainnya yang mempengaruhi prilaku di dalam organisasi. Prilaku-prilaku tersebut adalah:
Locus of control, prilaku ini merujuk kepada sebuah keyakinan yang di miliki individu mengenai hasil yang mereka peroleh merupakan akibat dari apa yang mereka lakukan.
Self-eficasy, prilaku ini merujuk kepada kepercayaan diri individu untuk melakukan sesuatu.
Authoritarianism, prilaku ini merujuk kepada keyakinan individu akan peran tingkatan hierarki dalam sebuah organisasi dengan kekuasaan organisasi.
Machiavelism, ini merujuk kepada prilaku untuk merekayasa prilaku orang lain selama rekayasa prilaku tersebut akan membantu kita dalam mencapai tujuan.
Self-estem, prilaku ini merujuk kepada keyakinan dari seseorang atau individu bahwa dirinya layak mendapatkan penghargaan.
Risk propensity, prilaku ini merujuk kepada kecendrungan individu dalam hal resiki dan menjawab tantangan.
e.  Perilaku Individu dan Sikap Berorganisasi
Sikap atau attitude pada dasarnya merupakan prinsip yang di ambil oleh individu berdasarkan kepribadian, keyakinan, dan perasaannya menyangkut suatu gagasan, situasi, atau lingkungan yang di hadapinya. Griffin(2000) menjelaskan bahwa sikap memiliki tiga komponen utama, yaitu komponen afektif menyangkut perasaan yang dirasakan oleh seseorang mengenai gagasan, situasi aau lingkungan yang dihadapinya. Komponen kogntif menyangkut pengetahuan seseorang mengenai suatu yang terkait dengan gagasan, situasi maupun lingkungan yang di hadapinya. Dan komponen intense, yaitu menyangkut harapan dari seseorantg akibat dari gagasan, situasi maupun lingkungan yang di hadapinya. 
f. Prilaku individu dan persepsi dalam berorganisasi

Persepsi pada dasarnya merupakan cara pandang individu yang di hasilkan dari rangkaian proses yang di lakukan dan di alami oleh individu tersebut sehingga individu tersebut semakin menyadari dan mengetahui apa yang akan terjadi mengenai suatu gagasan, situasi maupun lingkungan yang di hadapi. Terdapat dua jenis persepsi individu yang terkait dengan organisasi, yaitu persepsi selektif dan streotip.
Persepsi selektif adalah proses penyelesaian informasi mengenai sesuatu dimana sesuatu tersebut menglami berbagai kontradiksi dan ketidaksesuaian dari persepsi awal yang kita yakini.
Streotip adalah pelabelan terhadap seseorang berdasarkan suatu kejadian tertentu yang di alami atau di lakukan oleh orang tersebut.
      ii.   beberapa isu seputar perilaku individu dalam organisasi

a.      prilaku individu dan stres
            salah satu isu yang di bahas disini adalah stress. Sters pada dasarnya merupakan respons individu terhadap tekanan yang tinggi dalam pekerjaan. Tekanan yang tinggi ini sering kali dinamakan sebagai stressor. stres terjadi seiring dengan pengalaman yang dilalui oleh individu yang dinamakan general adaptation syndrome (GAS).berikut tahapan-tahapan dalam GAS:
·         tahap1(alarm), yaitu tahap dimana individu mengalami sesuatu yang menyebabkan dirinya memberikan respon yang tidak biasanya. Sesuatu itu bisa berupa, tekanan, kondisi fisik, atau perintah diluar kebiasaan.
·         Tahap2(resistence), yaitu tahap di mana individu melakukan penyesuaian diri berupa reaksi atas respon yang dia lakukan pada tahap alarm.  Seperti tindakan membiarkan Sesutu atau menyelesaikannya.
·         Tahap3(exhaustion), tahap dimana individu mengalami indikasi lain sebagai akibat  dari penyesuaian yang dilakukan pada tahap sebelumnya. Indikasi ini dapat berupa indikasi yang lebih baik dari keaddaan di tahap1,tahap2 atau sebaliknya ketika respon yang dilakukan pada tahap1 dan 2 tidak menyelesaikan masalah yang di alami pertama kali di tahap1.
ü  Penyebab-penyebab stres
Di antara Penyebab-penyebab stres dalam pekerjaan adalah tuntutan pekerjaan (task demands) yaitu tekanan-tekanan terhadap individu yang di sebabkan oleh adanya tuntutan tugas dari organisasi yang harus di selesaikan, tuntutan fisik(physical demands) terkait dengan fisik dari organisasi dimana dirinya bekerja, seperti kualitas tempat kerja atau kondisi fisik yang tengah sakit, tuntutan peran atau fungsi(role demands) terkait dengan tekanan yang diakibatkan adanya ambisi dari individu mengenai sesuatu yang ingin di capai di organisasi, dan tuntutan interpersonal(interpersonal demands)terkait dengan tekanan yang muncul dari rekan kerja,kelompok kerja, maupun ada konflik personal dalam organisasi.
ü   Konsekuensi-konsekuensi stres
      Di antara konsekuensi-konsekuensi stres adalah konsekuensi-konsekuensi psikologis, atau medis dari stres berhubungan dengan kesehatan mental dan kebahagiaan individu, misal depresi, gangguan tidur. Stres individual juga memiliki konsekuensi langsung ke perusahaan. Bagi karyawan operasi misal, stres bisa berdampak pada kualitas kerja yang buruk dan produktivitas yang rendah. Dan konsekuensi lain adalah burnout—perasaan letih(secara fisik dan mental) yang mungkin muncul saat seseorang mengalami stres yang terlalu parah dalam jangka waktu yang lama. burnout berakibat pada kelelahan berkepanjangan, frustasi, dan keputusasaan.
ü   Pengendalian stres
      bagaimana stres dapat dikendalikan? Di antara upaya yang dapat di upayakan adalah di antaranya melalui olah raga yang teratur, relaksasi, manajemen waktu, Merubah suasana atau lingkungan pekerjaan, dan support group.


b.      Kreativitas Individu dalam Organisasi
Selain stres, salah satu isu penting yang terkait dengan karakteristik individu adalah kreativitas. Kreativitas adalah kemampuan individu dalam memunculkan suatu gagasan baru mengenai sesuatu, terutama dari apa yang sudah di ketahui. Kreativitas sangat di perlukan dalam organisasi sebagai bagian dari kemampuan organisasi untuk terus beradaptasi dengan perubahan. Perubahan senantiasa memunculkan suatu yang baru. Oleh karena itu individu yang mampu untuk menghasilkan suatu yang baru memiliki kontribusi positif  bagi  organisasi.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan atau pendorong individu menjadi kreatif.  Faktor tersebut adalah:
Pengalaman individu dengan kreativitas terkait dengan latar belakang individu sebelumnya yang terkait dengan kreativitas.
Perlakuan terhadap individu terkait dengan bagaimana cara manager misalnya memperlakukan tenaga kerja. yang terakhir adalah
kemampuan kognitif dari individu terkait dengan keragaman karakteristik Individu dalam hal kemampuan kognitifnya. Ada individu yang cenderung Invergent cognitif thinking, yaitun terbiasa untuk melihat berbagai perbedaan dari berbagai persamaan yang ada. Ada pula individu yang convergent cognitif thinking, yaitu individu yang terbiasa untuk melihat persamaan dari perbedaan yang ada.
Bagaimana tahapan kreativitas terbangun? Paling tidak ada 4 tahap yang terjadi ketika sebuah gagasan kreatif muncul. Tahapan tersebut adalah:
Tahap persiapan. Tahapan ini bisa berupa proses pendidikan tertentu atau pelatihan yang di berikan kepada individu. Juga dapat berupa pemberian informasi kepada individu mengenai hal-hal organisasi atau perusahaan.
Tahap inkubasi. Pada tahap ini individu di kondisikan pada kondisi tertentu yang memungkinkan dirinya untuk mendapatkan gagasan baru mengenai sesutu.
Tahap penemuan gagasan. Pada tahap ini individu berhasil menemukan gagasan yang mungkin akan memberikan manfaat perubahan bagi organisasi.
Tahap pengujian. Tahap ini merupakan tahapan terakhir untuk menyelesaikan gagasan kreatif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar