A. Konsep Dasar
Perencanaan Dalam Manajemen
1. Pengertian Perencanaan (Palanning)
Menurut Robins dan Coulter (2002), Planning is a proces that involves defining
thr organization’s goals, estabilishing an overall strategy for achieving those
goals, and develoving a comperensive set of plans to integrate and coordinate
organizational work. Artinya,
Perencanaan adalah sebuah proses yang dimulai dari penetapan tujuan
organisasi, menentukan strategi untuk pencapaian tujuan organisasi tersebut
secara menyeluruh, serta merumuskan sistem perencanaan yang menyeluruh untuk
mengintegrasikan dan mengkoordinasikan seluruh pekerjaan organisai hingga
tercapainya tujuan organisasi. Penulis mencoba melihat pengertian perencanaan
ini dari tiga hal, yaitu dari sisi proses, fungsi manajemen, dan pengambilan
keputusan. Dari sisi proses, fungsi perencanaan adalah proses dasar yang
digunakan untuk memilih tujuan dan menentukan bagaimana tujmuan tersebut akan
dicapai. Dari sisi fungsi manajemen, perencanaan adalah fungsi dimana pimpinan
menggunakan pengaruh atas wewenangnya untuk menentukan atau mengubah tujuan dan
kegiatan organisasi. Dari sisi pengambilan keputusan, perencanaan merupakan
pengambilan keputusan untuk jangka waktu yang panjang atau waktu yang akan
datang mengenai apa yang akan dilakukan, bagaimana melakukannya, bilamana dan
siapa yang akan melakukannya, di mana keputusan yang diambil belum tentu
sesuai, hingga implementasi perencanaan tersebut dibuktikan di kenmudian hari.
George R. Terry menyatakan bahwa untuk mengetahui apakah perencanaan itu
baik atau tidak dapat dijawab melalui pertanyaan-pertanyaan dasar mengenai perencanaan yaitu :
·
WHAT (apa),
terkait dengan misalnya apa yang sesungguhnya yang menjadi tujuan perusahaan
dan apa yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.
·
WHY
(mengapa), terkait dengan pertanyaan seputar mengapa tujuan tersebut harus
dicapai dan mengapa tujuan yang terumuskan dalam jawaban atas pertanyaan What perlu dilakukan untuk mencapai tujuan
tersebut.
·
WHERE
(dimana), mengenai di mana kegiatan tersebut akan dilaksanakan.
·
WHEN
(kapan), kapan kegiatan tesebut akan dilaksanakan dan kapan kegiatan tersebut
harus dimulai dan diakhiri.
·
WHO (siapa
), siapa yang akan meloaksanakannya.
·
HOW
(bagaimana), bagaimana cara yang harus dilakukan untuk melakukan kegiatna
tersebut.
2. Fungsi
Perencanaan,
Robbins dan
Coulter (2002) menjelaskan bahwa fungsi perencanaan ada empat yaitu :
a) Perencanaan
sebagai pengarah
b) Perencanaan
sebagai Minimalisasi Ketidakpastian
c) Perencanaan
sebagai Minimalisasi Pemborosan Sumber Daya
d) Perencanaan
sebagai Penetapan Standar dalam Pengawasan Kualitas
3. Persyaratan
Perencanaan (Planning Requirenments)
a. FAKTUAL ATAU
REALISTIS.
Artinya, apa yang dirumuskan oleh perusahaan sesuai
dengan fakta dan wajar untuk dicapai dalam kondisi tertentu yasng dihadapi perusahaan.
b. LOGIS DAN
RASIONAL.
Artinya, apa yang dirumuskan dapat diterima oleh akal,
dan oleh sebab itu maka perencanaan tersebut bisa dijalankan.
c. FLEKSIBEL.
Perencanaan diharapkan mampu beradaftasi dengan
perusahaan dimasa yang akan datang, tetapi tidak berarti planning dapat kita
ubah seenaknya.
d. KOMITMEN.
Komitmen dapat dibangun apabila seluruh anggota di
perusahaan beranggapan bahwa perencanaan yantg dirumuskan telah sesuai dengan
tujuan yang ingin dicapai oleh organisasi.
e. KOMPREHENSIP.
Artinya, menyeluruh dan mengakomodasi aspek-aspek yang
terkait langsung maupun tak langsung terhadap perusahaan. Perencanaan tidak
hanya terkait dengan bagian yang kita jalankan, tetapi juga dengan
mempertimbangkan koordinasi dan integrasi dengan bagian lain di perusahaan.
B. Melakukan
Perencanaan
1. Peran Tujuan
(Goals) dan Rencana (Plan) dalam Proses Perencanaan
Tujuan (goals) pada dasarnya adalah hasil akhir yang
diharapkan dapat diraih atau dicapai oleh individu, kelompok, atau seluruh orgaisasi.
Dalam bahasa Inggris kadang dibedakan antara objectives dan goals.
Objectives sering diartikan sebagai tujuan dan goals diartikan
sebagai target. Tetapi biasa kedua istilah tersebut digantikan dengan istilah purpose, aims, destination, tetapi artinya
semua sama yaitu tujuan.
Rencana (plans) adalah segala
bentuk konsep dan dokumentasi yang menggambarkan bagaimana tujuan akan dicapai
dan bagaimana sumber daya perusahaan akan dialokasikan, penjadwalan dari proses
pencapaian tujuan, hingga segala hal yang terkait dengan pencapaian tujuan.
a. Beberapa
Jenis Tujuan (Types of Goals)
-
Tujuan
Strategis, Yaitu tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan dalam jangka waktu
yang relatif lama, biasanya antara 3 hingga 5 tahun, bahkan lebih.
-
Tujuan
taktis, Yaitu tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan dalam jangka waktu
menengah, relatif lebih singkat dari tujuan strategis, biasanya antara 1 hingga
3 tahun.
-
Tujuan
Operasional, Yaitu tujuan yang ingin dicapai dalam satu periode kegiatan
perusahaan, biasanya antara 6 bulan hingga 1 tahun.
b. Beberapa
Jenis Rencana (Types of Plans)
1. Dari segi
Keluasan dan Waktu, rencana dapat dibedakan menjadi :
-
Rencana
strategis atau jangka panjang, adalah reobjectivesncana yang dijalankan oleh
seluruh komponen dalam organisasi atau perusahaan, dan dibuat dalam rangka
pencapaian tujuan organisasi secara keseluruhan (strategic goals or
organizational objectives).
-
Rencana
Taktis atau jangka menengah, adalah rencana yang dijalankan untuk mencapai
tujuan jangka menengah dan sebagai dorongan tercapainya tujuan jangka panjang.
-
Rencana
Operasional atau rencana jangka pendek, adalah rencana yang dijalankan untuk
mencapai tujuan jangka pendek, sebagai dorongan tercapainya tujuan jangka
menengah.
2. Dari segi
Kejelasan, rencana dapat dibagi dua yaitu :
-
Rencana
sfesifik, adalahg rencana yang rumusannya sudah jelas dan tidak memerlukan
interpretasi. Sebagai contoh, manajer yang menetapkan adanya peningkatan pangsa
pasar sebesar 30 persenmungkin akan membuat rencana yang sangat jelas seperti
prosedur kerja yang sfesifik, alokasi anggaran yang ketat, dan penjadwalan yang
sudah jelas dan ketat.
-
Rencana
Direktif, adalah rencana yang dirumuskan untuk mencapai tujuan tertentu, akan
tetapi pada pencapaiannya memberikan keleluasaan dan fleksibilitasuntuk
pencapaiannya.
3. Dari Segi
Penggunaan
-
Rencana
sekali pakai (single use plan), biasanya dilakukan untuk organisasi yang sifat
kegiatannya temporal, seperti kepanitiaan.
-
Rencana yang
penggunaannya secara terus-menerus (standing plan), biasanya digunakan oleh
sebuah organisasi yang kegiatannya terus berkelanjutan ari waktu ke waktu.
Contoh ; kebijakan, prosedur atau aturan kerja
c. Beberapa
Pendekatan dalam Penetapan Tujuan
Ada dua jenis pendekatan yaitu pendekatan tradisional
(traditional goal setting) dan
pendekatan dengan menggunakan MBO (Management
by Objectives) :
1. Pendekatan
Tradisional
Pendekatan Tradisional dalam
penetapan tujuan menjelaskan bahwa perumusan dan penetapan tujuan dilakukan
oleh manajer tingkat puncak (top level of
management) untuk kemudian tujuan itu diturunkan lagi menjadi tujuan bagi
manajer di tingkat bawahnya secara spesifik. Pendekatan ini dikemukakan oleh
Robbins (2002) dinamakan dengan mean-ends
chain. Artinya, tujuan yang lebih tinggi (higher levels goals) atau tujuan akhir (ends) terkait dengan tujuan di bawahnya. Dengan demikian pencapaian
tujuan di bawah akan sangat berarti (means)
bagi pencapain tujuan di atasnya.
2. Management
by Objectives (MBO)
Management by Objectives (MBO) pertama kali diperkenalkan oleh Peter F. Drucker pada
akhir tahun 1950-an, akan tetapi hingga hari dinilai masih efektif dalam
kegiatan perencanaan perusahaan. MBO sering kali diterjemahkan sebagai
manajemen berdasarkan sasaran atau manajemen berdasarkan tujuan dilakukan
berdasarkan asumsi mendasar bahwa apa mendasar bahwa apa ang terjadi di
lapangan belum tentu sesuai dengan apa yang dipahami oleh pimpinan.
Pada dasarnya proses MBO dapat dilihat sebagaimana
ditunjukkan pada gambar berikut.
Agar proses MBO dapat tercapai ,ada empat faktor yang
perlu disepakati oleh pimpinan dan bawahan dalam hal :
1) Tujuan yang
dicapai oleh setiap bagian/bawahan (subordinates)
2) Perencanaan
yang akan dilakukan
3) Standar
pengukuran keberhasilan pencapaian tujuan dalam setiap kegiatan
4) Prosedur
untuk mengevaluasi keberhasilan pencapaian tujuan.
Kekuatan dari Pendekatan MBO :
·
MBO
melakukan integrasi fungsi perencanaan dan pengawasan ke dalam suatu sistem
rasional dalam manajemen.
·
MBO
mendorong organisasi untuk menentukan tujuan dari tingkat atas hingga tingkatan
manajemen
·
MBO
memfokuskan pada hasil akhir dariapada niat baik maupun faktor personal
·
MBO
mendorong adanya manajemen diri dan komitmen dari setiap orang melalui
partisipasi pada setiap langkah manajemen dalam penentuan tujuan.
Kelemahan dari pendekatan MBO :
·
MBO dianggap
terlalu menyederhanakan kegiatan dengan berusaha untuk menyelesaikan segala
sesuatu
·
MBO secara
cepat akan ditolak oleh manajer yang memiliki gaya otoriter dan oleh mereka
yang menerapakan birokrasi yang tidak fleksibel dan ketat
·
MBO
memerlukan banyak waktu dan usaha dalam implementasinya
·
MBO dapat
menjadi tantangan bagi manajer yang kurang memiliki kualifikasi yang baik.
2. Beberapa
alat Bantu Perencanaan
-
Perencanaan
dengan Flow Chart
Pada dasarnya, pendekatan ini lebih seribg digunakan
bagi mereka yang mendalami teknik komputer, teknik, dan sistem informasi. Flow
Chart adalah model grafis yang menunjukkan model sistem yang menggambarkan
kejadian yang berkesinambungan (sequencial)
dan keputusan ya atau tidak.
-
Perencanaan
dengan Jaringan PERT (PERT Network)
PERT adalah singkatan dari Program Evaluation and
Review Technuique yang merupakan alat bantu perencanaan melalui penjadwalan dan
penggambaran rencana kerja secara kroniogis dan berkelanjutan bagi pekerjaan
yang sifatnya tidak rutin, berskala besar dan kompleks. Ada 4 konsep yang harus
dipahami dalam PERT yaitu :
·
Event atau
Kejadian, adalah indikator dari ferforma pekerjaan baik sebelum maupun sesudah
pekerjaan dilakukan sekaligus juga menunjukkan apakah suatu pekerjaan lain
dapat dialakukan atau sebaliknya berdasarkan indikator ini. Contoh, bagian
produksi menerima bahan baku.
·
Activity
atau Kegiatan, adalah bagian dari berbagai pekerjaan yang sedang dalam pengerjaan
dari keseluruhan pekerjaan yang berkesinambungan.
·
Time atau
Waktu, menunjukkan perkiraan masa pengerjaan dari keseluruhan kegiatan
sebagaimana diatur dalam PERT.
·
Critical
Path atau indikator kritis, menunjukkan waktu kritis bagi pengerjaan kegiatan
dalam rangka path yang dapat diterima.
3. Penyelesaian
Masalah Dan Pengambilan Keputusan
a. Pengertian
Masalah
Masalah pada dasarnya adalah penyimpangan atau
ketidaksesuaian dari apa yang semestinya terjadi atau tercapai.
Ø Memahami keputusan
Keputusan pada dasarnya merupakan proses memilih satu
penyelesaian dari beberapa alternatif yang ada. Keputusan yang tepat pada
dasarnya yaitu keputusan yang bersifat rasional, sesuai dengan nurani, dan
didukung oleh fakta-fakta yang akurat sesuai dengan nurani, dan didukung oleh
fakta-fakta yang akurat, sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Kadangkala
keputusan dapat tidak bersifart rasioanal karena faktor-faktor yang terkait
dengan emosi, hubungan antarmanusia, faktor tradisi, lingkungan, dll.
b. Pengambilan
Keputusan
1) Faktor Lingkungan dan Pengambilan
Keputusan
Lingkungan adalah salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang ataupun
sebuah organisasi dalanm pengambilan keputusan. Secara umum informasi yang
terkait dengan lingkungan dapat dibedakan menjadi 3 berdasarkan keadaannya
yaitu :
·
Pengambilan
Keputusan di Saat keadaan yang pasti
Keadaan yang pasti (certainty)
adalah keadaan di mana seseorang atau organisasi berhadapan dengan informasi
yang lengkap mengenai suatu keadaan lingkungan yang dihadapinya, sehingga
estimasi mengenai masa depan dapat dipastikan.
·
Pengambilan
Keputusan di Saat keadaan yang tidak pasti.
Keadaan yang tidak pasti (uncertainty)
adalah keadaan di mana seseorang atau sebuah organisasi berhadapan dengan
informasi yang tidak lengkap atau sebuah organisasi tersebut idak memilikii
informasi mengenai masalah yang dihadapi.
·
Pengambilan
keputusan pada keadaan yang mengandung resiko. Keadaan yang mengandung risiko adalah
(ricky condution) adalah keadaan di mana seseorang ataua organisasi berhadapan
dengan informasi yang di miliki,namun relatif tidak lengkap jika di bandingkan
dengan keadaan yang pasti, namun relatif memadi bila di bandingkan dengan
keadaan yang tidak pasti.
2) Proses
Pengambilan Keputusan
Tahap-tahap pengambilan keputusan :
a) Investigasi
Situasi
Identifikasi masalah ialah pengambilan keputusan
sebagimana telah di terangkan yang dapat
membedakan apa yang benar-benar masalah atau gejala,dan apa sebab akibat
masalah tersebut. Diagnosa ialah penyebab masalah, pengambil keputusan
menentukan secara pasti apa yang menjadi sebab dan akibat. Tahap investigasis
stuasi ialah identivikasi tujuan dari keputusan yang akan di ambil.
b) Penentuan
Alternatif Solusi
Indentifikasi berbagai alternatif keputusan ialah
membangun beberapa alternatif solusi untuk dipututskan guna diambil sebagai
langkah solusi. Salah satu METODENYA ialah brainstorming atau curah ide, dimana
seluruh pihak yang dilibatkan dalam penentuan alternatif secara kreatif dan
bebas menawarkan berbagai langkah solusi yang terkait dengan maslah. Evaluasi
belum di lakukan ialah bebagai alternatif yang barangkali secara finanasial.
Misalnya: tidak memungkinkan untuk semntara di tampung dulu karena pada tahap
ini seluruh ide di tampung tanpa harus mengevaluasinya ter lebih dahulu.
c) Penilaian
Alternatif dan Penentuan Keputusan
§ Evaluasi dan penilaian alternatif yang ada ialah
penilaian berbagai alternatif yang muncul kemudian di ambil satu atau lebih
alternatif yang dianggap terbaik.
§ Penetuan altrernatif terbaik ialah kepastian yang
dipilih dapat memberikan dampak alternatif yang positif atau tidak.
d) Implementasi
dan Pengawasan
ü Rencana implementase ialah poses yang telah di susun
untuk sebuah perencanaan implementase.
ü Implementasi dari rencana yang telah di buat ialah
menjalankan rencana.
ü Pengawasan terhadap langkah implementase ialah agar
implementase
c. Keterbatasan
Pengambilan Keputusan.
o Kesalahan
Umum dalam Pengambilan Keputusan
Menurut WILIAMS (2000) keterbatasan ialah yang terkait
dengan kesalahan umum dalam pengambilan keputusan, keterbatasan, dan risiko
dari faktor lingkungan.
Ada 2 keterbatasan pengambilan keputusan :
1. Kesalahan umum dalam pengambilan keputusan ialah di akibatkan oleh
kesalahan umum yang biasa terjadi atau pengambilan keputusan terlalu melakukan
generalisasi (emosi).
2.
Keterbatasan Rasional ialah pengambilan keputusan tidak sejalan dengan
kemampuan pengambilan keputusan itu sendiri.
è Faktor lingkungan yang berisiko ialah salah satu
faktor dalam pengambilan keputusan dan kegiatan yang kita jalankan.
d. Memperbaiki
Keputusan
1.) Penggunaan
Aturan Terhadap Alternatif Keputusan
Penggunaan aturan terhadap alternatif keputusan ialah untuk memastikan apakah alternatif
keputusan yang diambil akan memenuhi kriteria-kriteria yang dianggap harus
dipenuhi untuk setiap keputusan.
v Kriteria prioritas untuk kriteria ini,setiap
alternatif keputusan akan disusun berdasarkan tingkat prioritasnya tertinggi
hingga rendah.
Contohnya ketika menentukan lokasi investasi maka ada beberapa kriteria
yang diperlukan misalnya:fasilitas air,listrik,transportasi,jarak dari
pemasok,dll.
v Kriteria umum untuk kriteria ini setiap alternatif
keputusan yang akan diambil haruslah memenuhi syarat minimun yang telah
ditetapkan untuk memastikan keputusan yang diambil dapat memenuhi tujuan
Contohnya STM pembangunan dan berpengalaman dalam bidang konstruksi selama
minimun satu tahun.
2.) Pengujian
terhadap berbagai alternatif keputusan
Pengujian
ini dapat dilakukan dengan melakukan simulasi atas skenario dari
alternatif-alternatifyang mungkin dilakukan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar