BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Kelebihan
Investasi Saham pada Pasar Modal
Berikut beberapa keuntungan melakukan investasi saham:
1. Dividen
Dividen yaitu
pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan penerbit saham tersebut atas
keuntungan yang dihasilkan perusahaan, deviden diberikan setelah mendapat
persetujuan dari pemegang saham dalam RUPS. Deviden yang dibagikan perusahaan
dapat berupa devien tunai artinya kepada setiap pemegang saham diberikan
deviden berupa uang tunai dalam jumlah rupiah tertentu untuk setiap saham atau
dapat pula berupa deviden stock yang artinya setiap pemegang saham diberikan
deviden sejumlah saham sehingga sejumlah saham yang dimiliki investor bertambah
dengan adanya pembagian dividen stock tersebut.
2. Capital Gain
Capital
gain merupakan selisih
antara harga beli dan harga jual, dimana harga jual lebih tinggi dari harga
beli, capital gain terbentuk dengan
adanya aktifitas perdagangan di pasar sekunder. Misalnya seorang pemodal
membeli saham BUMI dengan harga per lembar Rp.5000 kemudian menjualnya dengan
harga Rp.5500 per lembarnya, yang berarti pemodal tersebut telah mendapatkan capital gain sebesar Rp.500 untuk setiap
saham yang dijualnya. Umumnya pemodal dengan orientasi jangka pendek untuk
mengejar keuntungan melalui capital gain.
3. Saham Bonus
Saham bonus (jika ada) yaitu saham yang dibagikan
perusahaan kepada pemegang saham yang diambil dari agio saham, agio saham
adalah selisih antara harga jual terhadap harga nominal saham tersebut pada
saat perusahaan melakukan penawaran umum dipasar perdana, misalnya setiap saham
dengan nilai nominal Rp.500 dijual dengan harga Rp.800 maka setiap saham akan
memberikan agio kepada perusahaan sebesar Rp.300 setiap sahamnya.
4. Tidak memerlukan
perawatan untuk investasi saham
5. Nilai saham yang
berlaku setiap hari dapat diakses dimana saja, bahkan di berbagai media
6. Tidak
perlu membayar pajak selama memilikinya
7.
Sangat likuid, saat anda ingin menjualnya, pembeli
tersedia. (hal ini dikarenakan Saham memiliki bursa tersendiri yakni Bursa Efek
Indonesia yang mempertemukan pihak penjual dan pembeli).
2.2 Kekurangan
Investasi Saham pada Pasar Modal
1. Tidak mendapat
deviden
Perusahaan akan membagikan deviden jika operasi
perusahaan menghasilkan keuntungan. Dengan demikian perusahaan tidak dapat
membagikan deviden jika perusahaan tersebut mengalami kerugian. Dengan demikian
potensi keuntungan pemodal untukmendapatkan deviden ditentukan oleh kinerja
perusahaan tersebut.
2. Capital Loss
Dalam aktifitas perdagangan saham, tidak selalu
pemodal mendapatkan capital gain atau keuntungan atas saham yang dijualnya. Ada
kalanya investor menjual sahamnya lebih rendah harganya dari harga belinya,
dengan demikian investor mengalami capital
loss. Misalnya seorang
investor membeli saham BUMI pada harga Rp.5000 per lembarnya, namun beberapa
waktu kemudian dijual dengan harga Rp.4500 per lembarnya, berarti investor
tersebut mengalami kerugian sebesar Rp.500 per lembarnya, kerugian tersebut
yang disebut capital loss.
Dalam jual beli saham,
terkadang seorang investor untuk menghindari potensi kerugian yang makin besar
seiring dengan terus menurunnya harga saham, maka investor tersebut rela
menjual sahamnya dengan harga lebih rendah dari harga belinya, istilah ini
dikenal dengan Cut Loss.
3. Perusahaan
bangkrut dan dilikuidasi
Jika suatu perusahaan bangkrut, maka tentu saja akan
berdampak secara langsung kepada pemegang saham perusahaan tersebut. Sesuai
dengan peraturan pencatatan saham di bursa efek. Dalam kondisi perusahaan
dilikuidasi, maka pemeganng saham akan mendapat posisi lebih rendah
dibandingkan kreditor atau pemegang obligasi, dan jika masih terdapat sisa baru
akan dibagikan kepada pemegang saham.
4. Saham di delist dari bursa (delisting)
Resiko lain yang di hadapi oleh para investor adalah
jika saham perusahaan dikeluarkan dari pencatatan bursa efek (delist). Suatu saham perusahaan di delist di bursa umumnya karena kinerja
perusahaan yang buruk, misalnya dalam kurun waktu tertentu tidak pernah
diperdagangkan, mengalami kerugian beberapa tahun, tidak membagikan deviden
secara berturut-turut selama beberapa tahun dan berbagai kondisi lainnya sesuai
dengan peraturan pencatatan di bursa. Adapula perusahaan yang di delist keluar dari bursa dengan tujuan Go Private, perusahan yang melakukan Go Private tidak merugikan investor
karena perusahaan penerbit saham tersebut melakukan Buy Back terhadap saham yg diterbitkan.
5. Saham di Suspend
Jika suatu saham di suspend atau diberhentikan
perdagangannya oleh otoritas bursa efek. Dengan demikian pemodal tidak dapat
menjual sahamnya hingga saham yang di suspend
tersebut dicabut dari status suspend. Suspend biasanya berlangsung dalam waktu
singkat misalnya dalam 1 sesi perdagangan, 1 hari perdagangan namun dapat pula
berlangsung dalam kurun waktu beberapa hari perdagangan. Hal yang menyebabkan
saham di suspend yaitu suatu saham mengalami lonjakan harga yang luar biasa,
suatu perusahaan dipailitkan oleh kreditornya, atau berbagai kondisi lainnya
yang mengharuskan otoritas bursa menghentikan sementara perdagangan saham
tersebut untuk kemudian diminta konfirmasi lainnya. Sedemikian hingga informasi
yang belum jelas tersebut tidak menjadi ajang spekulasi, jika setelah
didapatkan suatu informasi yang jelas, maka status suspend atas saham tersebut dapat dicabut oleh bursa dan saham
dapat diperdagangkan lagi seperti semula.
6. Karena sangat likuid,
kadangkala menjadikannya terlalu fluktuatif sehingga saat kita mau menjual
harganya tidak sesuai ekspektasi.
2.3 Kelebihan Investasi Obligasi pada Pasar Modal
1. Memberikan pendapatan tetap (fixed
income) berupa kupon.
Hal ini merupakan ciri utama obligasi, dimana pemegang obligasi akan mendapatkan pendapatan bunga secara rutin selama waktu berlakunya obligasi. Bunga yang ditawarkan obligasi, umumnya lebih tinggi daripada bunga yang diberikan deposito atau SBI.
Hal ini merupakan ciri utama obligasi, dimana pemegang obligasi akan mendapatkan pendapatan bunga secara rutin selama waktu berlakunya obligasi. Bunga yang ditawarkan obligasi, umumnya lebih tinggi daripada bunga yang diberikan deposito atau SBI.
2.
Keuntungan atas penjualan obligasi (capital gain).
Disamping penghasilan berupa kupon, pemegang obligasi dapat memperjualbelikan obligasi yang dimilikinya. Jika ia menjual lebih tinggi dibandingkan dengan harga belinya maka tentu saja pemegang obligasi tersebut mendapatkan selisih yang disebut dengan capital gain. Jual beli obligasi tersebut dapat dilakukan di pasar sekunder melalui para dealer atau pialang obligasi. Jual beli obligasi berbeda dengan jual beli saham. Jika jual beli saham dinyatakan dengan nilai rupah, misalnya saham A dijual seharga Rp 4.000 per lembar saham maka jual beli obligasi dinyatakan dalam bentuk persentase atas harga pokok obligasi.
Disamping penghasilan berupa kupon, pemegang obligasi dapat memperjualbelikan obligasi yang dimilikinya. Jika ia menjual lebih tinggi dibandingkan dengan harga belinya maka tentu saja pemegang obligasi tersebut mendapatkan selisih yang disebut dengan capital gain. Jual beli obligasi tersebut dapat dilakukan di pasar sekunder melalui para dealer atau pialang obligasi. Jual beli obligasi berbeda dengan jual beli saham. Jika jual beli saham dinyatakan dengan nilai rupah, misalnya saham A dijual seharga Rp 4.000 per lembar saham maka jual beli obligasi dinyatakan dalam bentuk persentase atas harga pokok obligasi.
2.4 Kekurangan
Investasi Obligasi pada Pasar Modal
1. Risiko perusahan tidak mampu membayar
kupon obligasi maupun risiko perusahaan tidak mampu mengembalikan pokok
obligasi.
Ketidakmampuan perusahaan dalam membayar kewajiban dikenal dengan istilah default. Walaupun jarang terjadi, namun dapat saja suatu ketika penerbit obligasi tidak mampu membayar baik bunga maupun pokok obligasi.
Ketidakmampuan perusahaan dalam membayar kewajiban dikenal dengan istilah default. Walaupun jarang terjadi, namun dapat saja suatu ketika penerbit obligasi tidak mampu membayar baik bunga maupun pokok obligasi.
2. Risiko Tingkat Suku Bunga (Interest
Rate Risk).
Pergerakan harga obligasi sangat ditentukan pergerakan tingkat suku bunga. Pergerakan harga obligasi berbanding terbalik dengan tingkat suku bunga; artinya jika suku bunga naik maka harga obligasi akan turun. Sebaliknya, jika suku bunga turun maka harga obligasi akan naik. Investor obligasi harus jeli memperkirakan tingkat suku bunga sedemikian sehingga ia dapat memperkirakan apakah terus memegang suatu obligasi, membeli obligasi baru atau menjual obligasi yang dipegang saat ini. Perdagangan obligasi sangat dipengaruhi tingkat suku bunga. Jika tingkat suku bunga mengalami kenaikan, maka nilai obligasi menjadi turun, yang berarti obligasi akan dijual dengan diskon atau dijual lebih murah.
Pergerakan harga obligasi sangat ditentukan pergerakan tingkat suku bunga. Pergerakan harga obligasi berbanding terbalik dengan tingkat suku bunga; artinya jika suku bunga naik maka harga obligasi akan turun. Sebaliknya, jika suku bunga turun maka harga obligasi akan naik. Investor obligasi harus jeli memperkirakan tingkat suku bunga sedemikian sehingga ia dapat memperkirakan apakah terus memegang suatu obligasi, membeli obligasi baru atau menjual obligasi yang dipegang saat ini. Perdagangan obligasi sangat dipengaruhi tingkat suku bunga. Jika tingkat suku bunga mengalami kenaikan, maka nilai obligasi menjadi turun, yang berarti obligasi akan dijual dengan diskon atau dijual lebih murah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar