Rabu, 07 Februari 2018

Perbedaan antara pendekatan kardinal dan ordinal



Perbedaan antara pendekatan kardinal dan ordinal adalah:
  • ·        Dilihat dari pengertian:
Pendekatan Ordinal:
Pendekatan ini menyebutkan bahwa tingkat kepuasan konsumen dalam mengkonsumsi suatu barang tidak dapat diukur dengan satu satuan tetapi hanya bisa dibandingkan (tidak dapat dikuantitatifkan). Dalam pendekatan ordinal, cara membandingkan kepuasan konsumen dengan menggunakan konsep Pendekatan Kurva Indeferen / IC.
Sedangkan Pendekatan Kardinal adalah daya guna dapat diukur dengan satuan uang atau utilitas, dan tinggi rendahnya nilai atau daya guna tergantung kepada subyek yang menilai.
  • ·        Dilihat dari asumsi/landasan dasarnya:
1. Pendekatan kardinal , asumsi(landasan) dasarnya:
a)      Kepuasan konsumsi dapat diukur dengan satuan ukur.
b)      Makin banyak barang dikonsumsi makin besar kepuasan.
c)      Terjadi hukum The law of deminishing Marginal Utility pada tambahan kepuasan setiap satu satuan. Setiap tambahan kepuasan yang diperoleh dari setiap unit tambahan konsumsi semakin kecil. ( Mula – mula kepuasan akan naik sampai dengan titik tertentu atau tambahan kepuasan akan semakin turun ). Hukum ini menyebabkan terjadinya Downward sloping Marginal Utility curva (bentuk kurva miring kebawah). Tingkat kepuasan yang semakin menurun ini dikenal dengan hukum Gossen.
d)     Tambahan kepuasan untuk tambahan konsumsi 1 unit barang bisa dihargai dengan uang, sehingga makin besar kepuasan makin mahal harganya. Jika konsumen memperoleh tingkat kepuasan yang besar maka dia akan mau membayar mahal, sebaliknya jika kepuasan yang dirasakan konsumen redah maka dia hanya akan mau membayar dengan harga murah.
 Pendekatan kardinal biasa disebut sebagai Daya guna marginal.
Asumsi seorang konsumen :
Konsumen harus rasional yaitu menginginkan kepuasan maksimal.
Konsumen punya preferensi jelas akan barang dan jasa
Terdapat kendala anggaran

2. Pendekatan Ordinal
 Mendasarkan pada asumsi bahwa kepuasan tidak bisa dikuantitatifkan dan antara satu konsumen dengan konsumen yang lain akan mempunyai tingkat kepuasan yang berbeda dalam mengkonsumsi barang dalam jumlah dan jenis yang sama. Oleh karena itu kemudian muncul pendekatan ordinary yang menunjukkan tingkat kepuasan mengkonsumsi barang dalam model kurva indifferent. Pendekatan ordinal berdasarkan pembandingan sesuatu barang dengan barang yang lain, lalu memberikan urutan dari hasil pembandingan tersebut. Contoh penggunaan metode ordinal antara lain dalam suatu lomba atau kejuaraan, pengukuran indeks prestasi dan pengukuran yang sifatnya kualitatatif misalnya bagus, sangat bagus, paling bagus.
Dalam teori perilaku konsumen dengan pendekatan ordinal asumsi dasar seorang konsumen adalah :

---Konsumen rasional, mempunyai skala preferensi dan mampu merangking kebutuhan yang dimilikinya.
---Kepuasan konsumen dapat diurutkan, ordering.
---Konsumen lebih menyukai yang lebih banyak dibandingkan lebih sedikit, artinya semakin banyak barang yang dikonsumsi menunjukkan semakin tingginya tingkat kepuasan yang dimilikinya.

Pendekatan ordinal membutuhkan tolok ukur pembanding yang disebut dengan indeferent kurve. Kurva Indeferent adalah kurva yang menggambarkan hubungan antara dua jenis barang di mana konsumen mendapatkan kepuasan yang sama (indiferen) pada tiap-tiap titik kombinasi kuantitas (Q) kedua jenis tersebut. Kurva indiferen mengasumsikan bahwa banyak lebih disukai daripada sedikit. Kurva ini akan cembung dari biasanya
Contoh soal + penyelesaian :
Suatu barang yang berorientasi ekspor mempunyai fungsi permintaan Qd = 20 – 0,5P dan fungsi penawaran Qs = 12 + 0,5P. Dalam rangka meningkatkan ekspor pemerintah memberikan subsidi S = 10 perunit. Berdasarkan data di atas, maka harga keseimbangan (Q,P) setelah diberikan subsidi adalah ….


Jawab :
Rumus harga keseimbangan adalah, Qd = Qs
Karena adanya subsidi (S=10), fungsi penawaran Qs akan berubah dari  :
Qs   = 12 + 0,5P          
menjadi :
Qs1 = 12 + 0,5 (P + 10)
       = 12 + (0,5 x P) + (0,5 x 10)
       = 12 + 0,5P + 5
Qs1 = 17 + 0,5P

Jadi, harga keseimbangan dari  
Qd         =  Qs1    adalah :
20 - 0,5P = 17 + 0,5P
20 - 17    = 0,5P +0,5P
       5      = P
Jadi P = 5

Lalu, nilai P ini kita substitusikan ke fungsi qd atau qs (salah satu saja, untuk menghasilkan nilai Q), dalam hal ini misalnya kita substitusikan ke Qd = 20 - 0,5 P   sehingga :
Qd = 20 - 0,5 (5)
Qd = 20 – 2,5
Qd = 17,5  
Nilai ini akan sama hasilnya jika kita substitusikan nilai P ke Qs1, karena itu dapat kita ketahui bahwa nilai (Q,P)  adalah = 17,5  dan  5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar