Rabu, 07 Februari 2018

Contoh Cerpen: Segitiga Bermuda


Segitiga Bermuda
 
Ini kisah tentang cinta yang mengharukan, tentang perjuangan, tentang harapan, dan tentang kenyataan yang sebenarnya tidak terjadi. Atau mungkin ada sedikit dari kisah ini yang mirip dengan hidup anda. Kisah ini dimulai dari persahabatan 3 orang anak manusia yang sudah berteman sejak kecil. Mereka adalah Paijo, Tukimin, dan Siti. Paijo adalah anak yang baik dan gagah, sedangkan Tukimin manis dan sopan, dan tentunya Siti adalah wanita yang cantik di antara mereka.
            Setiap hari Tukimin selalu menghampiri Siti dan Paijo sebelum berangkat ke sekolah. Kebetulan mereka satu sekolahan sejak SD sampai SMA.
 “Tadi malam mimpi apa Ti?” tanya Tukimin pada Siti.
 “Kasih tau ngga yah?...” Siti menjawab sambil tersenyum.
 “Pasti mimpiin aku ya Ti?” sahut Tukimin.
 “Ih PD amat, siapa juga yang mimpiin kamu ye.... Aku kan mimpiin Paijo” jawabnya.
“Wah beruntung kamu Jo, dimimpiin Siti. Aku aja belum pernah” ucap Tukimin sambil menahan sakit di hatinya.
Paijo tertawa dan menjawab “Sudah-sudah ayo kita cepat berangkat nanti terlambat”.
Mereka pun mengayuh sepeda dengan semangat, mereka menggunakan sepeda karena jarak sekolahan dengan rumah mereka lumayan dekat.
            Sesampainya di sekolah mereka bergegas masuk ke kelas, kebetulan mereka juga satu kelas. Ini luar biasa, karena mereka selalu satu sekolahan dan satu kelas. Sebenarnya alasannya sederhana saja, itu karena Tukimin mengikuti kemana Siti bersekolah dan Siti mengikuti kemana Paijo bersekolah. Bel berbunyi, tanda pelajaran pertama akan dimulai. Pelajaran pertama adalah Bahasa ingris yang merupakan pelajaran kesukaan Paijo karena ia ingin bekerja di luar negri. Walaupun ini bukan pelajaran kesukaan Siti dan Tukimin tapi mereka tetap memperhatikan guru. Bel pun berbunyi kembali tanda berakhirnhya pelajaran bahasa inggris.
            Saatnya istirahat adalah saatnya pergi ke kantin. Paijo segera pergi ke kantin lebih dulu, sementara Tukimin masih menunggu Siti. Paijo telah memesan bakso pada ibu kantin dan duduk di pojok kantin, tempat dimana ia biasa makan. Tukimin dan Siti tiba, kemudian memesan mie ayam. Saat mereka sedang makan datanglah Siska, gadis paling populer di sekolah. Tentunya menghampiri Paijo.
“Hai Jo, kayaknya enak tuh baksonya jadi pengen deh..” ucap Siska.
“Ia nih, kamu mau? Nanti aku traktir” jawab Paijo.
“Benerannih?” sahut Siska penasaran.
 “Ia bener” jawab Paijo meyakinkan.
 “Wah  makasih ya Jo, tapi aku bayar sendiri aja tadi aku cuma bercanda kok” Siska tersenyum.
 “eghem,... eghem...” Siti pura-pura batuk.
 Tukimin tau kalau Siti cemburu pada Siska, jadi dia langsung menawarkan minuman pada Siti ”Ini Ti diminum biar enakan”.
“Gak usah” jawab Siti keras dan langsung pergi meninggalkan kantin.
            Saat pulang sekolah mereka pun pulang bersama-sama.
“Tadi kenapa Ti buru-buru pergi dari kantin?” tanya Paijo.
“Tidak apa-apa tadi aku hanya batuk dan ingin ke toilet” tersnyum sambil menahan sakit di hatinya.
“Apa sekarang sudah baikan Ti?”.
 “Sudah Jo, alhamdulillah”.
 “Sukurlah kalau begitu” ucap Paijo.
 “Andai kau tau apa yang kurasakan dalam hatiku, sakitnya itu di sini” Siti berbicara dalam hati.
Tukimin mengerti perasaan Siti, jadi dia mencoba menghiburnya “Batuk kayak gitu sih gak ngaruh sama cewe secantik kamu”.
“Diam kamu Min, bikin aku pengen muntah aja” jawab Siti kesal.
“Seandainya yang bilang kaya gitu Paijo, pasti aku bakal seneng banget” batin Siti.
            Malam harinya setelah shalat isya Siti disuruh ibunya membeli obat nyamuk di warung pak Romlan. Disana ia bertemu dengan Paijo yang sedang berduaan dengan Siska sambil meminum wedang jahe pak Romlan.
“Beli obat nyamuknya satu bungkus pak”.
“Ini Ti obat nyamuknya” pak Romlan tersenyum.
”Makasih pak”.
Paijo yang tengah minum wedang jahe pun menawari Siti ”Mau weeang jahe Ti?”.
“Tidak usah terima kasih, aku sudah ditunggu ibuku” mrnjawab sambil berpaling dan pergi.
            Sesampainya di rumah Siti langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu kamarnya. Setelah beberapa saat Siti pun mengambil hpnya dan menelpon Tukimkin(teman curhatnya sejak Siti pertama kali curhat).
 “Hallo tukimin.....” sapa Siti.
 “Ia hallo, mau curhat kamu ya Ti?”.
“Iya nih, hari ini aku rasanya sakit banget. Tadi pagi di kantin Siska mesra-mesraan sama Paijo. Tadi aku habis dari warung pak Romlan eh mereka juga di sana. Sakitnya ntuh di sini Min”.
 “Sabar Ti, mungkin kamu lagi uji sama yang di atas”.
 “Diuji ya diuji, tapi mau sampai kapan aku seperti ini?”.
“Sampai kamu ngga curhat ke aku”.
“Ih kamu juga Min ngeselin, orang lagi curhat masa diajak bercanda”.
”Yah, masa kamu curhat ke aku hampir setiap hari, dan semua itu tentang Paijo dan Siska. Kenapa kamu nggak curhat kalau kamu cinta ke aku sih Ti?(tertawa)”.
 “Ih, jangan ngarep kamu yah. Aku cintanya cuman sama Paijo”.
 “Emang aku kenapa? Aku kan juga ganteng”.
“Iya sih kamu juga ganteng. Tapi aku tetep suka sama Paijo”.
 “Ya udah, Siti kan cantik. Masa cuman kaya gitu aja sedih. Semangat dong, senyum dan tunjukan Kalau Siti itu bisa”.
 “Ok Min, terima kasih yah kamu udah mau jadi temen curhat aku”.
 “Gak papa kita kan sahabat”.
 “Selamat malam Min, mimpi indah yah”.
“Iya sama”... tuuut.. tuuut... tuut.. telefon mati. “Seandainya kau tau tahu sakit yang aku rasakan... Yang harus mendengarkan curhatmu tentang Paijo setiap saat.... ah sudahlah lebih baik aku tidur.
            Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, dan mereka semua lulus. Sebelum melanjutkan kuliah Paijo bertunangan dengan Siska, sedangkan Tukimin dijodohkan oleh orang tuanya dengan anak rekan bisnis bapaknya. Sementara Siti tidak mengetahui hal itu karena ia sibuk mengurus pendaftaran untuk kuliah di luar negri. Tidak terasa 4 tahun telah berlalu dan Siti pun kembali ke Indonesia kembali ke tempat kelahirannnya desa guyub kecamatan rukun kabupaten adil propinsi banten. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan Paijo (cinta lamanya itu). Siti sangatsenang karena Paijo datang ke rumahnya setelah mendengar berita kepulangannya. Siti merasa sangat senang karena Paijo adalah orang pertama yang menemuinya. Namun seketika kebahagiaan itu sirna saat Paijo memngutarakan maksudnya datang ke rumah Siti. “Ti aku ke sini mau memberikan undangan pernikahanku dengan Siska”.
Siti terdiam sejenak lalu menjawab” oh selamat ya aku pasti akan datang ke pesta pernikahan kalian”. Setelah Paijo pergi Siti pun masuk ke kamar dan menangis...
            Setelah selesai menangis Siti pun mengambil telfonnya, dia tahu kalau harapannya dengan Paijo telah sirna. Jadi ia memutuskan untuk menelfon Tukimin (oang yang sangat mencintainya). Ia sadar dengan ketulusan cinta Tukimin padanya. Ia pun menyadari betapa sakitnya Tukimin yang selalu mendengarkan curhatnya tentang Paijo. “Ia pasti lebih sakit dariku, aku tak pernah menghiraukan perasaannya dan ingin dia mengerti aku” Siti berbicara dalam hati.
“Hallo tukimin..”.
 “Ia saya hadir”.
“Bagaimana kabarmu Min? Aku baik”.
“Aku juga baik Ti. Kamu sudah menerima undangan pernikahan Paijo?” .
”Sudah makannya aku telfon kamu”.
“Sabar ya, tapi maaf aku gakbisa jadi temen curhat kamu lagi”.
“Emangnya kenapa?”(tanya Siti penasaran).
“Sebelumnya terima kasih karena telah membiarkan aku mencintaimu. Tapi aku sekarang sudah tidak  boleh mencintaimu lagi. Aku tak mau menghianati kepercayaan dan cinta istriku padaku. Karena kalau kau terus seperti itu kau akan merusak rumah tanggaku”.
“oh begitu, terima kasih karena telah mau menjadi teman curhatku selama ini, maafkan aku karena telah melukai hatimu dan mengganggu waktumu. Terima kasih atas waktu yang telah kau berikan. Selamat malam”.
“Selamat malam, semoga mimpi indah”. Tuuut... tuuuut...tuuut...
            Semalaman Siti tak bisa Tidur dan hanya merenungi kebodohhannya. “Kenapa aku harus kehilangan kedua sahabatku, kenapa aku harus mengejar cinta yang tak pasti, kenapa aku begitu bodoh karena tidak menghiraukan cinta yang tulus padaku, kenapa aku tuidak menyadarinya dari awal kalau Paijo tidak mencintaiku dan hanya berusaha menjaga hatiku agar tak terluka bila ia katakan kalau ia tak mencintaiku, dan juga kenapa aku tak menghiraukan cinta Tukimin yang tulus padaku, kenapa aku hanya mengikuti egoku tanpa berfikir betapa sakitnya mereka karena harus membohongi perasaan mereka sendiri demi diriku, terima kasih teman, kalian adalah sahabat terbaikku, maafkan aku yang tak pernah mau mengerti kalian, namun apa dayaku semuanya telah terjadi, selamat menjalani hidup baru sahabat terbaikku, orang yang mencintaiku, orang yang aku cintai, aku ingin mengakhiri hidupku.”
Selama satu minggu Siti mengurung diri di kamar. Ia hanya keluar untuk ke kamar mandi. Ia merasa sangat depresi dengan semua yang dia alami. Pada malam ke-8 ia terus meneguk anggur merah. Itu adalah botol ke-12 yang akan ia habiskan. Asap terus mengepul dari ventilasi kamarnya. Sudah 24 bungkus 76 ia habiskan. Saat botol minumannya habis, ia merasakan sakit yang semakin dalam. Menusuk, merobek, dan mencabik-cabik jiwanya. “Rasanya aku ingin mati, hidup ini terlalu berat untuk aku jalani. Dunia ini begitu kejam, lebih kejam dari diriku ini. Yah, sepertinya sudah tidak ada harapan untuk wanita sepertiku yang sudah tidak perawan lagi. Bodohnya aku, dosa-dosa ini terus menusuk fikiranku, jeritan hati ini terdengar jelas di telingaku. Ah, serpihan kaca ini terlihat begitu indah. Wahai tuan kaca, bawalah aku pergi dari dunia ini. Begitu indah warna darah ini. Merah dan mengalir lalu terjatuh. Engkau berceceran di atas debu. Kenapa semuanya menjadi gelap dan terasa begitu dingin.” Kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Siti.
Para tetangga mencium bau busuk dari kamar siti. Tentu saja ini mengundang rasa penasaran. Lalu didobraklah pintu kamar Siti. Ternyata dugaan mereka benar, bau busuk itu adalah bau dari mayat. Yang tak disangka, tubuh yang terbaring membusuk itu adalah Siti. Ada darah yang terdiam di pergelangan tangan Siti. Tangan yang satunya masih menggenggam kaca yang berlumuran darah kering. Warga segera memakamkan mayat Siti yang mulai membusuk. Polisi memastikan Siti bunuh diri karena depresi, hal itu diperkuat dengan banyaknya botol minuman keras dan putung rokok di kamarnya.
Tukimin dan Paijo turut menghadiri pemakaman Siti. Ada seorang lelaki bule dan gadis cantik berambut hitam, ia tampak imut dengan seragam sekolahnya. Walaupun mengis histeris, ia tetap terlihat cantik. “Mungkin si bule teman kuliah Siti saat di luar negeri” bisik ibu-ibu pelayat. Tidak ada satupun dari dua sahabat Siti yang bisa berkata-kata. Semuanya diam, dan begitu terasa keheningan yang menyelimuti. Dalam hati Paijo “maafkan aku wanita yang selalu mencintaiku”. Dalam hati Tukimin “maafkan aku wanita yang selalu aku cintai”. “semoga engkau tenang di sana”.
            TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar