Segitiga Bermuda

Ini kisah tentang cinta yang mengharukan,
tentang perjuangan, tentang harapan, dan tentang
kenyataan yang sebenarnya tidak terjadi. Atau mungkin ada sedikit dari kisah
ini yang mirip dengan hidup anda. Kisah ini dimulai dari persahabatan 3 orang
anak manusia yang sudah berteman sejak kecil. Mereka adalah Paijo, Tukimin, dan
Siti. Paijo adalah anak yang baik dan gagah, sedangkan Tukimin manis dan sopan,
dan tentunya Siti adalah wanita yang cantik di antara mereka.
Setiap hari Tukimin selalu menghampiri Siti dan Paijo
sebelum berangkat ke sekolah. Kebetulan mereka satu sekolahan sejak SD sampai
SMA.
“Tadi malam mimpi apa Ti?” tanya Tukimin pada
Siti.
“Kasih tau ngga yah?...” Siti menjawab sambil
tersenyum.
“Pasti mimpiin aku ya Ti?” sahut Tukimin.
“Ih PD amat, siapa juga yang mimpiin kamu
ye.... Aku kan mimpiin Paijo” jawabnya.
“Wah beruntung kamu Jo,
dimimpiin Siti. Aku aja belum pernah” ucap Tukimin sambil menahan sakit di
hatinya.
Paijo tertawa dan
menjawab “Sudah-sudah ayo kita cepat berangkat nanti terlambat”.
Mereka pun mengayuh
sepeda dengan semangat, mereka menggunakan sepeda karena jarak sekolahan dengan
rumah mereka lumayan dekat.
Sesampainya di sekolah mereka bergegas masuk ke kelas,
kebetulan mereka juga satu kelas. Ini luar biasa, karena mereka selalu satu
sekolahan dan satu kelas. Sebenarnya alasannya sederhana saja, itu karena
Tukimin mengikuti kemana Siti bersekolah dan Siti mengikuti kemana Paijo
bersekolah. Bel berbunyi, tanda pelajaran pertama akan dimulai. Pelajaran
pertama adalah Bahasa ingris yang merupakan pelajaran kesukaan Paijo karena ia
ingin bekerja di luar negri. Walaupun ini bukan pelajaran kesukaan Siti dan
Tukimin tapi mereka tetap memperhatikan guru. Bel pun berbunyi kembali tanda
berakhirnhya pelajaran bahasa inggris.
Saatnya istirahat adalah saatnya pergi ke kantin. Paijo
segera pergi ke kantin lebih dulu, sementara Tukimin masih menunggu Siti. Paijo
telah memesan bakso pada ibu kantin dan duduk di pojok kantin, tempat dimana ia
biasa makan. Tukimin dan Siti tiba, kemudian memesan mie ayam. Saat mereka
sedang makan datanglah Siska, gadis paling populer di sekolah. Tentunya
menghampiri Paijo.
“Hai Jo, kayaknya enak
tuh baksonya jadi pengen deh..” ucap Siska.
“Ia nih, kamu mau?
Nanti aku traktir” jawab Paijo.
“Benerannih?” sahut
Siska penasaran.
“Ia bener” jawab Paijo meyakinkan.
“Wah
makasih ya Jo, tapi aku bayar sendiri aja tadi aku cuma bercanda kok”
Siska tersenyum.
“eghem,... eghem...” Siti pura-pura batuk.
Tukimin tau kalau Siti cemburu pada Siska,
jadi dia langsung menawarkan minuman pada Siti ”Ini Ti diminum biar enakan”.
“Gak usah” jawab Siti
keras dan langsung pergi meninggalkan kantin.
Saat pulang sekolah mereka pun pulang bersama-sama.
“Tadi kenapa Ti
buru-buru pergi dari kantin?” tanya Paijo.
“Tidak apa-apa tadi aku
hanya batuk dan ingin ke toilet” tersnyum sambil menahan sakit di hatinya.
“Apa sekarang sudah
baikan Ti?”.
“Sudah Jo, alhamdulillah”.
“Sukurlah kalau begitu” ucap Paijo.
“Andai kau tau apa yang kurasakan dalam
hatiku, sakitnya itu di sini” Siti berbicara dalam hati.
Tukimin mengerti
perasaan Siti, jadi dia mencoba menghiburnya “Batuk kayak gitu sih gak ngaruh
sama cewe secantik kamu”.
“Diam kamu Min, bikin
aku pengen muntah aja” jawab Siti kesal.
“Seandainya yang bilang
kaya gitu Paijo, pasti aku bakal seneng banget” batin Siti.
Malam harinya setelah shalat isya Siti disuruh ibunya
membeli obat nyamuk di warung pak Romlan. Disana ia bertemu dengan Paijo yang
sedang berduaan dengan Siska sambil meminum wedang jahe pak Romlan.
“Beli obat nyamuknya
satu bungkus pak”.
“Ini Ti obat nyamuknya”
pak Romlan tersenyum.
”Makasih pak”.
Paijo yang tengah minum
wedang jahe pun menawari Siti ”Mau weeang jahe Ti?”.
“Tidak usah terima
kasih, aku sudah ditunggu ibuku” mrnjawab sambil berpaling dan pergi.
Sesampainya di rumah Siti langsung masuk ke kamar dan
mengunci pintu kamarnya. Setelah beberapa saat Siti pun mengambil hpnya dan
menelpon Tukimkin(teman curhatnya sejak Siti pertama kali curhat).
“Hallo tukimin.....” sapa Siti.
“Ia hallo, mau curhat kamu ya Ti?”.
“Iya nih, hari ini aku
rasanya sakit banget. Tadi pagi di kantin Siska mesra-mesraan sama Paijo. Tadi
aku habis dari warung pak Romlan eh mereka juga di sana. Sakitnya ntuh di sini
Min”.
“Sabar Ti, mungkin kamu lagi uji sama yang di
atas”.
“Diuji ya diuji, tapi mau sampai kapan aku
seperti ini?”.
“Sampai kamu ngga
curhat ke aku”.
“Ih kamu juga Min
ngeselin, orang lagi curhat masa diajak bercanda”.
”Yah, masa kamu curhat
ke aku hampir setiap hari, dan semua itu tentang Paijo dan Siska. Kenapa kamu
nggak curhat kalau kamu cinta ke aku sih Ti?(tertawa)”.
“Ih, jangan ngarep kamu yah. Aku cintanya
cuman sama Paijo”.
“Emang aku kenapa? Aku kan juga ganteng”.
“Iya sih kamu juga
ganteng. Tapi aku tetep suka sama Paijo”.
“Ya udah, Siti kan cantik. Masa cuman kaya
gitu aja sedih. Semangat dong, senyum dan tunjukan Kalau Siti itu bisa”.
“Ok Min, terima kasih yah kamu udah mau jadi
temen curhat aku”.
“Gak papa kita kan sahabat”.
“Selamat malam Min, mimpi indah yah”.
“Iya sama”... tuuut..
tuuut... tuut.. telefon mati. “Seandainya kau tau tahu sakit yang aku
rasakan... Yang harus mendengarkan curhatmu tentang Paijo setiap saat.... ah sudahlah
lebih baik aku tidur.
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, dan mereka semua
lulus. Sebelum melanjutkan kuliah Paijo bertunangan dengan Siska, sedangkan
Tukimin dijodohkan oleh orang tuanya dengan anak rekan bisnis bapaknya.
Sementara Siti tidak mengetahui hal itu karena ia sibuk mengurus pendaftaran
untuk kuliah di luar negri. Tidak terasa 4 tahun telah berlalu dan Siti pun kembali
ke Indonesia kembali ke tempat kelahirannnya desa guyub kecamatan rukun
kabupaten adil propinsi banten. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan Paijo
(cinta lamanya itu). Siti sangatsenang karena Paijo datang ke rumahnya setelah
mendengar berita kepulangannya. Siti merasa sangat senang karena Paijo adalah
orang pertama yang menemuinya. Namun seketika kebahagiaan itu sirna saat Paijo
memngutarakan maksudnya datang ke rumah Siti. “Ti aku ke sini mau memberikan
undangan pernikahanku dengan Siska”.
Siti terdiam sejenak
lalu menjawab” oh selamat ya aku pasti akan datang ke pesta pernikahan kalian”.
Setelah Paijo pergi Siti pun masuk ke kamar dan menangis...
Setelah selesai menangis Siti pun mengambil telfonnya,
dia tahu kalau harapannya dengan Paijo telah sirna. Jadi ia memutuskan untuk
menelfon Tukimin (oang yang sangat mencintainya). Ia sadar dengan ketulusan
cinta Tukimin padanya. Ia pun menyadari betapa sakitnya Tukimin yang selalu
mendengarkan curhatnya tentang Paijo. “Ia pasti lebih sakit dariku, aku tak
pernah menghiraukan perasaannya dan ingin dia mengerti aku” Siti berbicara
dalam hati.
“Hallo tukimin..”.
“Ia saya hadir”.
“Bagaimana kabarmu Min?
Aku baik”.
“Aku juga baik Ti. Kamu
sudah menerima undangan pernikahan Paijo?” .
”Sudah makannya aku
telfon kamu”.
“Sabar ya, tapi maaf
aku gakbisa jadi temen curhat kamu lagi”.
“Emangnya
kenapa?”(tanya Siti penasaran).
“Sebelumnya terima
kasih karena telah membiarkan aku mencintaimu. Tapi aku sekarang sudah
tidak boleh mencintaimu lagi. Aku tak
mau menghianati kepercayaan dan cinta istriku padaku. Karena kalau kau terus
seperti itu kau akan merusak rumah tanggaku”.
“oh begitu, terima
kasih karena telah mau menjadi teman curhatku selama ini, maafkan aku karena
telah melukai hatimu dan mengganggu waktumu. Terima kasih atas waktu yang telah
kau berikan. Selamat malam”.
“Selamat malam, semoga
mimpi indah”. Tuuut... tuuuut...tuuut...
Semalaman Siti tak bisa Tidur dan hanya merenungi
kebodohhannya. “Kenapa aku harus kehilangan kedua sahabatku, kenapa aku harus
mengejar cinta yang tak pasti, kenapa aku begitu bodoh karena tidak
menghiraukan cinta yang tulus padaku, kenapa aku tuidak menyadarinya dari awal
kalau Paijo tidak mencintaiku dan hanya berusaha menjaga hatiku agar tak
terluka bila ia katakan kalau ia tak mencintaiku, dan juga kenapa aku tak
menghiraukan cinta Tukimin yang tulus padaku, kenapa aku hanya mengikuti egoku
tanpa berfikir betapa sakitnya mereka karena harus membohongi perasaan mereka
sendiri demi diriku, terima kasih teman, kalian adalah sahabat terbaikku,
maafkan aku yang tak pernah mau mengerti kalian, namun apa dayaku semuanya
telah terjadi, selamat menjalani hidup baru sahabat terbaikku, orang yang
mencintaiku, orang yang aku cintai, aku ingin mengakhiri hidupku.”
Selama
satu minggu Siti mengurung diri di kamar. Ia hanya keluar untuk ke kamar mandi.
Ia merasa sangat depresi dengan semua yang dia alami. Pada malam ke-8 ia terus
meneguk anggur merah. Itu adalah botol ke-12 yang akan ia habiskan. Asap terus
mengepul dari ventilasi kamarnya. Sudah 24 bungkus 76 ia habiskan. Saat botol
minumannya habis, ia merasakan sakit yang semakin dalam. Menusuk, merobek, dan
mencabik-cabik jiwanya. “Rasanya aku ingin mati, hidup ini terlalu berat untuk
aku jalani. Dunia ini begitu kejam, lebih kejam dari diriku ini. Yah,
sepertinya sudah tidak ada harapan untuk wanita sepertiku yang sudah tidak
perawan lagi. Bodohnya aku, dosa-dosa ini terus menusuk fikiranku, jeritan hati
ini terdengar jelas di telingaku. Ah, serpihan kaca ini terlihat begitu indah.
Wahai tuan kaca, bawalah aku pergi dari dunia ini. Begitu indah warna darah
ini. Merah dan mengalir lalu terjatuh. Engkau berceceran di atas debu. Kenapa
semuanya menjadi gelap dan terasa begitu dingin.” Kata-kata terakhir yang
diucapkan oleh Siti.
Para
tetangga mencium bau busuk dari kamar siti. Tentu saja ini mengundang rasa
penasaran. Lalu didobraklah pintu kamar Siti. Ternyata dugaan mereka benar, bau
busuk itu adalah bau dari mayat. Yang tak disangka, tubuh yang terbaring
membusuk itu adalah Siti. Ada darah yang terdiam di pergelangan tangan Siti.
Tangan yang satunya masih menggenggam kaca yang berlumuran darah kering. Warga
segera memakamkan mayat Siti yang mulai membusuk. Polisi memastikan Siti bunuh
diri karena depresi, hal itu diperkuat dengan banyaknya botol minuman keras dan
putung rokok di kamarnya.
Tukimin
dan Paijo turut menghadiri pemakaman Siti. Ada seorang lelaki bule dan gadis
cantik berambut hitam, ia tampak imut dengan seragam sekolahnya. Walaupun
mengis histeris, ia tetap terlihat cantik. “Mungkin si bule teman kuliah Siti
saat di luar negeri” bisik ibu-ibu pelayat. Tidak ada satupun dari dua sahabat
Siti yang bisa berkata-kata. Semuanya diam, dan begitu terasa keheningan yang
menyelimuti. Dalam hati Paijo “maafkan aku wanita yang selalu mencintaiku”.
Dalam hati Tukimin “maafkan aku wanita yang selalu aku cintai”. “semoga engkau
tenang di sana”.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar