Rabu, 07 Februari 2018

contoh cerpen: POHON BERINGIN



POHON BERINGIN
Konon katanya pohon beringin itu angker. Begitupun dengan pohon beringin yang berada di pojok sekolah dekat lapangan. Tepatnya sekolahku, SMA NEGERI 100 BOJOLORO. Pohon beringin tersebut sangat besar. Apalagi dengan akar yang lebat menambah kesan keangkeran. Semua orang takut kalau lewat situ pada malam hari. Jangankan malam hari, siang-siang saja orang-orang merinding kalau lewat situ.
            Waktu itu, saat pulang sekolah. Aku berjalan sendirian melewati pohon beringin tersebut. Tiba-tiba ada angin besar yang datang. Aku sedikit merinding. Selanjutnya aku semakin merinding saat angin membunyikan ranting beringin dan meniup daun yang telah jatuh. Dan asap pun muncul. Entah hanya firasatku atau memang ada suara yang memanggil-manggil namaku. “Bejo... Bejo...Bejo...” suara itu semakin jelas terdengar. Hentakan langkah kaki menambah keseraman pada saat itu. Tiba-tiba ada yang menepuk bahuku. Aku hanya terdiam dan tidak berani menoleh ke belakang. Tanpa sadar aku pun mengompol. Tak perlu berfikir panjang, aku langsung lari pulang ke rumah. “Dasar anak zaman sekarang, mau dimintai tolong malah takut, memangnya aku ini setan” ucap penjaga sekolah yang sedang membersihkan sampah di bawah pohon beringin.
            Sesampainya dirumah aku langsung ditanyai ibuku ”kamu habis ngapain Jo? Kok lari-lari kayak habis dikejar setan?”. “Anu, anu bu aku habis dikejar setan” jawabku gugup. “Masa sore-sore begini ada setan, ibu tidak percaya!” sahut ibu. “Beneran bu, Bejo tidak bohong” mulai tenang. “Apa kamu habis maling?” tanya ibu tegas. “Ah ibu, masa anak sendiri dituduh maling.” Aku kesal.”Ya sudah ibu minta maaf. Sudah sanah pergi mandi bau ompol kamu.” Ibu tertawa. “wkwkwkwkwkwkwkwk...”
            Keesokan harinya saat aku pulang sekolah, pak karmin sedang duduk di bawah pohon beringin yang menyeramkan. Dan ia memanggilku. “Sini Jo, bapak mau bicara sama kamu”. “Ia pak, ada apa?” jawabku. “Kenapa kamu kemarin lari sambil ngompol saat bapak menepuk bahumu?” tanya Pak Karmin. “Oh jadi kemarin bapak. Saya kira setan” hehehe. “Sembarangan kamu Jo, masa orang ganteng kayak gini dikira setan” agak kesal. ”Maaf pak” aku menunduk. “Iya tidak apa-apa, kemarin bapak cuma ingin minta tolong agar kamu bantuin bapak” jelas pak Karmin. “Kalau begitu sekarang ada yang bisa saya bantu?” tanyaku. “Ada, tolong bakar itu sampah di dekat pohon beringin”. “Beres pak”. Kami pun membersihkan sampah di sekitar pohon beringin.
            Kejadian mengompol di bawah pohon beringin membuatku menjadi ingin pipis setiap lewat pohon beringin tersebut. Hampir setiap hari aku pipis di situ. Baik saat berangkat ataupun pulang sekolah. Karena kencingku, pohon beringin tersebut menjadi semakit angker. Mungkin kalian sudah bisa menebaknya. Itu karena bau kencingku yang seperti bau kuburan. Pohon beringin itu menjadi sangat seram saat ada seekor kucing mati di bawah pohon beringin tersebut. Aku sih tidak heran, itu pasti karena kucing memiliki penciuman yang sangat tajam dan kucing itu mencium aroma kencingku yang menusuk-nusuk hidungnya bagaikan bau bangkai. Tentunya itu hanya menjadi rahasiaku.
            Setiap hari jum’at aku menjumpai sesaji di bawah pohon beringin tersebut. Sesajinya berupa jajan pasar, kemenyan, dan bunga. Mungkin pohon itu telah dianggap keramat oleh beberapa orang. Seketika muncul sebuah ide cemerlang di otakku. Setiap ada sesaji makanan,  pasti selalu aku ambil. Lumayan, makanan geratis. Suatu hari aku merasa sangat mengantuk, setelah aku kencing lalu memanjat pohon beringin itu dan tiduran di dahan. Tiba-tiba ada sebuah suara yang mendekat dan membangunkanku. Ternyata itu adalah Cecep, teman sekelasku. “Permisi mbah, numpang pipis di sini ya mbah” ucap Cecep. Aku iseng menjawab “Baiklah tapi kau harus memberikan sesaji ingkung padaku”. “Baiklah akan aku lakukan itu” jawabnya gemetar.
            Keesokan harinya, saat sore hari seperti kemarin. Aku kembali memanjat pohon beringin untuk tiduran. Ternyata Cecep datang kembali dengan membawa ingkung. Wah alangkah senangnya hati ini. Tidak kusangka ternyata Cecep benar-benar percaya. “Ini mbah aku bawakan ingkung seperti yang mbah minta.” Ucap Cecep. “Bagus-bagus, sekarang kamu pergi dan kembali ke rumah. Kau sekarang boleh kencing di sini kapanpun kau mau, hahaha” jawabku. “Baik mbah terima kasih.” Cecep pergi.
            Tak lama kemudian aku turun dan mengambil ingkung itu lalu naik lagi ke atas pohon. Saking asiknya makan ingkung, aku tak sadar kalau Cecep kembali ke sini bersama ibunya dan beberapa orang warga. “Cecep kamu taruh mana ingkung yang tadi ibu masak?
“ tanya ibu Cecep marah. “Tadi aku taruh sini bu, sesuai dengan permintaan embah penunggu pohon beringin ini” jawab Cecep. “Dasar kamu anak yang kurang ajar, itu ingkung buat makan kita” semakin marah. Tanpa sadar aku menjatuhkan tulang ingkung yang aku makan dan mengenai kepala ibu Cecep. “Aduh, siapa ini yang melempar tulang padaku?” setengah berteriak. “Tulangnya jatuh dari atas bu” jawab Cecep. Mereka semua pun melihat ke atas pohon. “Oh, jadi ternyata embah pohon beringin ini kamu Jo!” dengan suara keras padaku. “Emm... aku cuma iseng bu” aku kebingungan. “Jadi iseng, kalau begitu sini turun” pinta ibu Cecep. “Baik bu” jawabku. Demi kesejahteraan bersama dan atas kesepakatan bersama, mereka memutuskan untuk memngikatku di sini selama satu malam.
            Nasib emang sudah nasib, aku harus diikat di sini selama satu malam. Yah aku memang pantas mendapatkannya. Sebenarnya kalau hanya diikat aku sih tidak masalah, apalagi besok hari minggu. Tapi yang membuatku tak tahan adalah bau kencingku yang telah menyatu dengan pohon ini akhirnya aku juga yang merasakannya. Tangisan dan teriakanku melengkapi keangkeran pohon beringin ini. “Oh pohon beringiiiiiinnnnnnn”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar