|
POHON BERINGIN
|
Waktu itu, saat pulang sekolah. Aku berjalan sendirian
melewati pohon beringin tersebut. Tiba-tiba ada angin besar yang datang. Aku
sedikit merinding. Selanjutnya aku semakin merinding saat angin membunyikan
ranting beringin dan meniup daun yang telah jatuh. Dan asap pun muncul. Entah
hanya firasatku atau memang ada suara yang memanggil-manggil namaku. “Bejo...
Bejo...Bejo...” suara itu semakin jelas terdengar. Hentakan langkah kaki
menambah keseraman pada saat itu. Tiba-tiba ada yang menepuk bahuku. Aku hanya
terdiam dan tidak berani menoleh ke belakang. Tanpa sadar aku pun mengompol.
Tak perlu berfikir panjang, aku langsung lari pulang ke rumah. “Dasar anak
zaman sekarang, mau dimintai tolong malah takut, memangnya aku ini setan” ucap
penjaga sekolah yang sedang membersihkan sampah di bawah pohon beringin.
Sesampainya dirumah aku langsung ditanyai ibuku ”kamu
habis ngapain Jo? Kok lari-lari kayak habis dikejar setan?”. “Anu, anu bu aku
habis dikejar setan” jawabku gugup. “Masa sore-sore begini ada setan, ibu tidak
percaya!” sahut ibu. “Beneran bu, Bejo tidak bohong” mulai tenang. “Apa kamu
habis maling?” tanya ibu tegas. “Ah ibu, masa anak sendiri dituduh maling.” Aku
kesal.”Ya sudah ibu minta maaf. Sudah sanah pergi mandi bau ompol kamu.” Ibu
tertawa. “wkwkwkwkwkwkwkwk...”
Keesokan harinya saat aku pulang sekolah, pak karmin
sedang duduk di bawah pohon beringin yang menyeramkan. Dan ia memanggilku.
“Sini Jo, bapak mau bicara sama kamu”. “Ia pak, ada apa?” jawabku. “Kenapa kamu
kemarin lari sambil ngompol saat bapak menepuk bahumu?” tanya Pak Karmin. “Oh
jadi kemarin bapak. Saya kira setan” hehehe. “Sembarangan kamu Jo, masa orang
ganteng kayak gini dikira setan” agak kesal. ”Maaf pak” aku menunduk. “Iya tidak
apa-apa, kemarin bapak cuma ingin minta tolong agar kamu bantuin bapak” jelas
pak Karmin. “Kalau begitu sekarang ada yang bisa saya bantu?” tanyaku. “Ada,
tolong bakar itu sampah di dekat pohon beringin”. “Beres pak”. Kami pun
membersihkan sampah di sekitar pohon beringin.
Kejadian mengompol di bawah pohon beringin membuatku
menjadi ingin pipis setiap lewat pohon beringin tersebut. Hampir setiap hari
aku pipis di situ. Baik saat berangkat ataupun pulang sekolah. Karena kencingku,
pohon beringin tersebut menjadi semakit angker. Mungkin kalian sudah bisa
menebaknya. Itu karena bau kencingku yang seperti bau kuburan. Pohon beringin
itu menjadi sangat seram saat ada seekor kucing mati di bawah pohon beringin
tersebut. Aku sih tidak heran, itu pasti karena kucing memiliki penciuman yang
sangat tajam dan kucing itu mencium aroma kencingku yang menusuk-nusuk
hidungnya bagaikan bau bangkai. Tentunya itu hanya menjadi rahasiaku.
Setiap hari jum’at aku menjumpai sesaji di bawah pohon
beringin tersebut. Sesajinya berupa jajan pasar, kemenyan, dan bunga. Mungkin
pohon itu telah dianggap keramat oleh beberapa orang. Seketika muncul sebuah
ide cemerlang di otakku. Setiap ada sesaji makanan, pasti selalu aku ambil. Lumayan, makanan
geratis. Suatu hari aku merasa sangat mengantuk, setelah aku kencing lalu
memanjat pohon beringin itu dan tiduran di dahan. Tiba-tiba ada sebuah suara
yang mendekat dan membangunkanku. Ternyata itu adalah Cecep, teman sekelasku.
“Permisi mbah, numpang pipis di sini ya mbah” ucap Cecep. Aku iseng menjawab
“Baiklah tapi kau harus memberikan sesaji ingkung padaku”. “Baiklah akan aku
lakukan itu” jawabnya gemetar.
Keesokan harinya, saat sore hari seperti kemarin. Aku
kembali memanjat pohon beringin untuk tiduran. Ternyata Cecep datang kembali
dengan membawa ingkung. Wah alangkah senangnya hati ini. Tidak kusangka
ternyata Cecep benar-benar percaya. “Ini mbah aku bawakan ingkung seperti yang
mbah minta.” Ucap Cecep. “Bagus-bagus, sekarang kamu pergi dan kembali ke
rumah. Kau sekarang boleh kencing di sini kapanpun kau mau, hahaha” jawabku.
“Baik mbah terima kasih.” Cecep pergi.
Tak lama kemudian aku turun dan mengambil ingkung itu
lalu naik lagi ke atas pohon. Saking asiknya makan ingkung, aku tak sadar kalau
Cecep kembali ke sini bersama ibunya dan beberapa orang warga. “Cecep kamu
taruh mana ingkung yang tadi ibu masak?
“ tanya ibu Cecep marah. “Tadi aku taruh sini bu, sesuai dengan permintaan embah penunggu pohon beringin ini” jawab Cecep. “Dasar kamu anak yang kurang ajar, itu ingkung buat makan kita” semakin marah. Tanpa sadar aku menjatuhkan tulang ingkung yang aku makan dan mengenai kepala ibu Cecep. “Aduh, siapa ini yang melempar tulang padaku?” setengah berteriak. “Tulangnya jatuh dari atas bu” jawab Cecep. Mereka semua pun melihat ke atas pohon. “Oh, jadi ternyata embah pohon beringin ini kamu Jo!” dengan suara keras padaku. “Emm... aku cuma iseng bu” aku kebingungan. “Jadi iseng, kalau begitu sini turun” pinta ibu Cecep. “Baik bu” jawabku. Demi kesejahteraan bersama dan atas kesepakatan bersama, mereka memutuskan untuk memngikatku di sini selama satu malam.
“ tanya ibu Cecep marah. “Tadi aku taruh sini bu, sesuai dengan permintaan embah penunggu pohon beringin ini” jawab Cecep. “Dasar kamu anak yang kurang ajar, itu ingkung buat makan kita” semakin marah. Tanpa sadar aku menjatuhkan tulang ingkung yang aku makan dan mengenai kepala ibu Cecep. “Aduh, siapa ini yang melempar tulang padaku?” setengah berteriak. “Tulangnya jatuh dari atas bu” jawab Cecep. Mereka semua pun melihat ke atas pohon. “Oh, jadi ternyata embah pohon beringin ini kamu Jo!” dengan suara keras padaku. “Emm... aku cuma iseng bu” aku kebingungan. “Jadi iseng, kalau begitu sini turun” pinta ibu Cecep. “Baik bu” jawabku. Demi kesejahteraan bersama dan atas kesepakatan bersama, mereka memutuskan untuk memngikatku di sini selama satu malam.
Nasib emang sudah nasib, aku harus diikat di sini selama
satu malam. Yah aku memang pantas mendapatkannya. Sebenarnya kalau hanya diikat
aku sih tidak masalah, apalagi besok hari minggu. Tapi yang membuatku tak tahan
adalah bau kencingku yang telah menyatu dengan pohon ini akhirnya aku juga yang
merasakannya. Tangisan dan teriakanku melengkapi keangkeran pohon beringin ini.
“Oh pohon beringiiiiiinnnnnnn”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar