BERIKUT ADALAH PENJELASAN MENGENAI PENAWARAN DAN PERMINTAAN UANG·
Menurut Albert Gailort Hart: Dalam bukunya yang berjudul Money
Debt and Economic Activity, ia mendefinisikan uang sebagai suatu kekayaan
yang dimiliki untuk dapat melunasi utang dalam jumlah tertentu dan pada waktu
yang tertentu pula.
·
Menurut A. C. Pigou: Dalam bukunya yang berjudul The Veil of Money,
ia mengatakan bahwa uang adalah segala sesuatu yang umum dipergunakan sebagai
alat tukar.
·
Menurut H. Robertson: Dalam bukunya yang berjudul Money,
ia mengatakan bahwa uang adalah segala sesuatu yang umum diterima dalam
pembayaran barang dan jasa.
·
Menurut R. S. Sayers: Dalam bukunya Modern Banking, ia menyebutkan
uang sebagai segala sesuatu yang umum diterima bagi pembayaran utang.
·
Menurut Rollin G. Thomas: Dalam bukunya yang berjudul Our
Modern Banking and Monetary System, ia menyebutkan bahwa uang adalah segala
sesuatu yang tersedia dan umumnya diterima umum sebagai alat pembayaran untuk
pembelian barang dan jasa, serta untuk pelunasan utang.
·
Menurut Walker: Ia mendefinisikan uang dengan mengatakan: “Money is what
money does”. Artinya, uang adalah semua hal yang dapat dilakukan oleh uang itu.
Dengan kata lain, uang adalah uang karena fungsinya sebagai uang dan bukan
karena fungsi- fungsi yang lain.
·
Menurut hukum, uang adalah benda yang merupakan alat pembayaran yang
sah. Secara fungsional uang adalah suatu benda yang dapat digunakan sebagai
alat pembayaran. Bila dilihat dari nilainya, uang adalah satuan hitung untuk
menyatakan nilai.
·
Menurut Ensiklopedi Indonesia, uang adalah segala sesuatu yang
biasanya digunakan dan diterima secara umum sebagai alat penukar atau standar
pengukur nilai, yaitu standar daya beli, standar uang, dan garansi menanggung
utang.
Uang memegang peranan penting dalam kegiatan ekonomi
suatu negara. Tanpa uang, kegiatan perdagangan tidak akan lancar. Tanpa uang
kegiatan perdagangan menjadi sangat terbatas serta spesialisasi tidak dapat
berkembang. Saat ini semua negara di dunia menggunakan perekonomian uang.
Semakin modern suatu negara, semakin penting peranan uang dalam mendorong
kegiatan perdagangannya.
1. PERMINTAAN UANG
Berdasarkan teorinya permintaan uang (money demand),
dibagi menjadi dua, yaitu teori kuantitas uang klasik dan teori uang Keynesian.
a. Teori Kuantitas (Klasik)
Menurut pandangan ekonomi klasik, fungsi uang hanya
sebagai alat tukar. Oleh karena itu, jumlah uang yang diminta berbanding
proporsional dengan tingkat output atau pendapatan. Jika tingkat output
meningkat, jumlah uang yang diminta akan meningkat. Demikian sebaliknya.
Teori kuantitas uang menyatakan bahwa perubahan nilai
uang atau tingkat harga merupakan akibat adanya perubahan jumlah uang yang
beredar. Bertambahnya jumlah uang yang beredar dalam masyarakat
mengakibatkan turunnya nilai mata uang. Menurunnya nilai mata uang sama artinya
dengan naiknya tingkat harga. Pendapat tersebut dinyatakan dalam persamaan
berikut.
MV = PT
Ket :
M = jumlah uang yang beredar (Money)
V = kecepatan peredaran uang (Velocity Circulation
of Money)
P = tingkat harga-harga umum (Price)
T = jumlah transaksi barang dan jasa (Transaction)
Di dalam persamaan tersebut, M sama dengan jumlah uang
kertas, logam, dan uang giral yang beredar dalam perekonomian. Kecepatan
peredaran uang (V) ditentukan berdasarkan seringnya uang beredar atau berpindah
tangan dalam masyarakat selama satu tahun. Nilai P ditentukan berdasarkan
indeks harga. Adapun T, menunjukkan transaksi jumlah barang dan jasa yang
diperjualb belikan. Kecepatan peredaran uang tetap dan penggunaan tenaga kerja
penuh (full employment) sudah tercapai.
b. Teori Permintaan Uang Keynes
Menurut Teori Keynes ada tiga motivasi orang memegang
uang, yaitu untuk transaksi, berjaga-jaga, dan memperoleh keuntungan.
1) Motif Transaksi (Transaction Motive)
Setiap orang yang bekerja ingin memperoleh upah atau
uang untuk membeli (transaksi) barang-barang kebutuhannya. Masyarakat memegang
uang dengan tujuan untuk mempermudah kegiatan transaksi sehari-hari. Permintaan
uang untuk transaksi berhubungan positif dengan tingkat pendapatan, artinya
jika pendapatan meningkat, kebutuhan uang untuk bertransaksi akan meningkat.
2) Motif Berjaga-jaga (Precaution Motive)
Hal lain yang memotivasi orang memegang uang, yaitu
persiapan untuk menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan atau yang tidak
terduga. Misalnya, sakit atau mengalami kecelakaan. Permintaan uang untuk
berjaga-jaga berhubungan positif dengan pendapatan. Jika pendapatan me ningkat,
jumlah uang untuk berjaga-jaga juga meningkat.
3) Motif Mendapatkan Keuntungan (Speculation Motive)
Motivasi menyimpan uang untuk memperoleh keuntungan
disebut sebagai motivasi spekulasi. Misalnya, membeli surat-surat berharga
seperti obligasi dan saham perusahaan. Keynes mengembangkan teori ini
berdasarkan asumsi bahwa uang merupakan aset finansial yang dapat dimiliki
masyarakat. Aset lainnya, yaitu obligasi (surat utang yang disertai janji
memberikan pendapatan bunga). Permintaan uang untuk tujuan spekulasi ditentukan
oleh tingkat bunga. Hubungan antara tingkat bunga dan permintan uang berbanding
terbalik berdasarkan pertimbangan memperoleh keuntungan (spekulasi).
2. PENAWARAN UANG
Penawaran uang (money supply) adalah jumlah uang yang
beredar. Dalam mempelajari penawaran uang harus dibedakan antara mata uang
dalam peredaran dan uang yang beredar. Mata uang dalam peredaran adalah mata
uang yang telah dikeluarkan dan diedarkan oleh Bank Sentral. Mata uang tersebut
terdiri atas uang kertas dan uang logam. Dengan demikian, mata uang dalam
peredaran sama dengan uang kartal. Adapun uang beredar, yaitu semua jenis uang
yang berada di dalam perekonomian (mata uang dalam peredaran ditambah dengan
uang giral pada bank-bank umum).
Teori penawaran uang, meliputi teori penawaran uang
tanpa bank dan teori penawaran uang modern.
a. Teori Penawaran Uang Tanpa Bank
Teori ini merupakan teori yang paling sederhana. Teori
ini merupakan gambaran dari sistem standar emas, ketika emas menjadi
satu-satunya alat pembayaran. Jumlah uang beredar atau uang yang ditawarkan di
masyarakat naik atau turun sesuai dengan tersedianya emas di masyarakat. Dalam
sistem moneter seperti itu, uang beredar ditentukan oleh proses pasar. Adapun
pemerintah, Bank Sentral, ataupun perbankan tidak memiliki pengaruh terhadap
besarnya uang yang beredar. Dalam hal ini, penawaran uang hanya bertambah jika
orang memproduksi emas (baru). Jadi, jumlah uang beredar bergantung pada
perilaku produsen emas. Produsen emas hanya akan memproduksi apabila
menguntungkan.
Standar uang yang biasa digunakan ada dua macam, yaitu
standar kertas dan standar logam.
1) Standar Kertas
Standar kertas adalah sistem keuangan yang menggunakan
uang kertas sebagai alat tukar atau alat pembayaran yang sah dan tidak
terbatas, tetapi tidak dapat ditukarkan dengan emas dan perak pada bank
sirkulasi.
2) Standar Logam (Metalisme)
Standar logam (metalisme) dibedakan menjadi
dua, yaitu standar monometalisme dan standar bimetalisme. Standar
monometalisme (satu logam), terjadi jika suatu negara menggunakan
standar uangnya hanya satu buah logam mulia. Misalnya hanya menggunakan emas
atau menggunakan perak. Sedangkan standar bimetalisme (dua logam),
standar ini dapat dibagi menjadi tiga, yaitu standar pincang, standar paralel,
dan standar kembar.
·
Standar pincang adalah standar uang yang menggunakan
emas sebagai standar uang dan perak sebagai alat pembayarannya.
·
Standar paralel adalah standar uang yang menggunakan
dua logam mulia berupa emas dan perak secara bersama-sama sebagai standar
uangnya. Namun, perbandingan yang berlaku hanya satu macam, yaitu menurut pasar
saja.
·
Standar kembar adalah standar uang yang menggunakan
dua logam mulia, berupa emas dan perak secara bersama-sama sebagai standar
uangnya.
Jika suatu negara menggunakan standar kembar, dalam
negara tersebut akan berlaku Hukum Gresham, yang berbunyi: “Bad money
always drives out good money”. Artinya, uang yang jelek akan mengusir keluar
uang yang baik. Syarat berlakunya Hukum Gresham, yaitu sebagai berikut.
·
Negara tersebut menggunakan standar kembar.
·
Bank Sentral memperjualbelikan logam mulia, baik
berupa emas maupun perak.
·
Masyarakat diberikan kebebasan untuk menempa dan
melebur uang emas atau perak.
·
Perbandingan emas dan perak menurut pemerintah serta
pasar berbeda.
b. Teori Penawaran Uang Modern
Dalam perekonomian modern, para produsen emas tidak
lagi memiliki peranan moneter yang penting seperti dalam sistem standar emas.
Dalam sistem standar kertas, sumber dari terciptanya uang beredar, yaitu
otoritas moneter (Bank Sentral). Otoritas moneter merupakan produsen uang inti
atau uang primer. Adapun lembaga keuangan (perbankan) merupakan produsen uang
sekunder bagi masyarakat. Keduanya berhubungan sangat erat karena uang sekunder
(uang giral) hanya bisa tumbuh karena ada uang primer. Uang sekunder diciptakan
oleh bank berdasarkan atas uang primer yang dipegang bank (cadangan bank).
PENAWARAN DAN PERMINTAAN UANG SERTA
TEORI KESEIMBANGAN UMUM
A. Permintaan Uang (money demand/MD)
Permintaan uang menunjukkan keseluruhan uang yang diminta oleh sebuah
perekonomian pada periode tertentu.
Permintaan
uang diartikan sebagai kebutuhan masyarakat akan uang tunai. Menurut John
Maynard Keynes ada 3 motif yang mempengaruhi permintaan uang tunai oleh
masyarakat.
1.
Motif transaksi (transactional
motive). Permintaan uang untuk motif ini dapat disebut dengan MDt.
2.
Motif berjaga-jaga
(precautionary motive). Permintaan uang untuk motif ini dapat disebut MDp.
3.
Motif spekulasi (speculation
motive), atau MDs.
Permintaan uang untuk motif transaksi dan berjaga-jaga sangat dipengaruhi
oleh pendapatan. Sedangkan permintaan uang untuk spekulasi sangat dipengaruhi oleh
suku bunga.
Ada beberapa hal yang mempengaruhi permintaan uang, diantaranya :
·
Pendapatan riil. Semakin
tinggi pendapatan, permintaan akan uang akan semakin besar. Ini karena konsumsi
dan tabungan akan bertambah seiring dengan meningkatnya pendapatan.
·
Tingkat suku bunga. Semakin
tinggi suku bunga, permintan uang untuk motif spekulasi akan berkurang.
Tingginya suku bunga akan membuat biaya pinjaman uang untuk berspekulasi
bertambah mahal. Selain itu, jika tingkat suku bunga tinggi, orang akan lebih
baik menabung di bank dengan jaminan suku bunga yang ada daripada berspekulasi.
·
Tingkat harga umum. Semakin
tinggi tingkat harga umum, permintaan akan uang akan semakin bertambah. Ini
karena harga barang/jasa bertambah mahal, sehingga dibutuhkan lebih banyak uang
untuk membelinya.
·
Pengeluaran konsumen. Misalnya
saja pengeluaran konsumen pada bulan-bulan menjelang Natal, puasa, atau Hari
Raya lainnya akan bertambah. Akibatnya, permintaan uang juga akan bertambah.
Untuk dapat
memahami secara lebih mudah tentang ketiga motif tersebut berikut ini akan
diuraikan satu persatu.
1.
Permintaan uang untuk transaksi (transaction demand)
Terkait
dengan fungsi uang sebagai alat tukar, kita menggunakan uang untuk membeli
barang dan jasa atau untuk membayar tagihan. Permintaan uang untuk transaksi
memiliki hubungan positif dengan pendapatan. Jika pendapatan naik, maka
permintaan uang untuk keperluan bertransaksi juga meningkat.
2.
Permintaan uang untuk berjaga-jaga (precautionary demand)
Permintaan
terhadap uang bisa saja karena orang ingin berjaga-jaga terhadap suatu
peristiwa yang tidak dikehendaki seperti sakit, kecelakaan, kebanjiran dan
kebakaran. Permintaan uang untuk berjaga-jaga juga memiliki hubungan positif
dengan pendapatan.
3.
Permintaan uang untuk spekulasi (speculative demand)
Spekulasi
berarti melakukan sesuatu tindakan atas dasar ramalan perubahan nilai harta di
masa depan. Jika seorang spekulan meramalkan bahwa harga rumah, nilai saham,
atau harga emas akan meningkat dimasa depan, mereka akan membeli rumah, saham,
atau emas, dan bukan menyimpan uang. Jadi, dalam hal ini spekulan berharap
bahwa mereka akan mendapatkan keuntungan dari peningkatan harga rumah, saham,
atau emas di masa depan. Ini tentu dengan sendirinya mengurangi permintaan
uang.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi permintaan uang adalah sebagai berikut.
1.
Besar-kecilnya pembelanjaan
negara yang berkaitan dengan pendapatan nasional.
2.
Cepat atau lambatnya laju
peredaran uang. Kecepatan peredaran uang dipengaruhi oleh faktor berikut.
a)
kebiasaan pembayaran konsumen, apakah tunai atau angsuran, sebab ini akan
berpengaruh terhadap jumlah uang yang diminta pada saat ini
atausaat mendatang.
b)
Frekuensi pembayaran pendapatan
c)
Praktik-praktik bank, hal ini berkaitan dengan keluar masuknya uang melalui
bank.
d)
Keadaan psikologi masyarakat dalam menggunakan uangnya.
3.
Motif-motif masyarakat dalam memiliki uang.
B. Penawaran Uang (Jumlah Uang Beredar/JUB/Money Supply/MS)
Penawaran uang/MS adalah jumlah keseluruhan uang yang diedarkan bank pada
waktu tertentu di sebuah ekonomi. Defini MS dapat dilihat sebagai berikut :
·
M0, yaitu definisi MS secara
sempit. M0 hanya terdiri dari uang kartal, yaitu uang kertas dan logam yang
kita pegang sehari-hari.
·
M1, yaitu M0 ditambah dengan
demand deposit (dd). Dd adalah tabungan yang kita miliki di bank, yang dapat
dicairkan sewaktu-waktu apabila dibutuhkan. M1 ini merupakan perhitungan JUB
yang sangat likuid.
·
M2, yaitu M1 ditambah dengan
time deposit (td). Td adalah tabunga, deposito, dan sejenisnya, yang memiliki
waktu jatuh tempo atau tidak dapat dicairkan sewaktu-waktu dibutuhkan.
·
M3, yaitu M2 ditambah dengan
deposito jangka panjang, Ini meliputi dana-dana institusional yang ada dipasar
uang.
Uang logam dan kertas hanya dapat dicetak oleh bank sentral, misalnya Bank
Indonesia di Indonesia. Dalam jangka pendek, MS adalah konstan. Dalam
perekonomian, uang dalam bentuk logam dan kertas hanya boleh dicetak oleh bank
sentral. Namun bank umum juga dapat “mencetak” uang secara tidak langsung,
seperti yang disebutkan diatas, melalui dd, td, dan
deposito jangka panjang. Oleh sebab itu, bank sentral
juga mengelola MS melalui berbagai kebijakan moneter yang
akan menstimulasi bank-bank umum untuk bertindak sesuai
arah yang diinginkan. Secara sederhana penawaran uang atau jumlah
uang yang beredar terdiri atas uang logam, uang kertas, simpanan giro, deposito
berjangka, berbagai macam tabungan, dan rekening valuta asing milik swasta
domestik. Penawaran uang dipengaruhi oleh pemerintah dengan berbagai kebijakan
yang ditetapkan. Lembaga yang biasanya bertanggungjawab mengatur dan
menjalankan kebijakan khususnya kebijakan moneter adalah bank sentral.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi penawaran uang adalah sebagai berikut.
1.
Semakin tinggi tingkat bunga,
semakin sedikit jumlah uang yang beredar. Semakin rendah tingkat bunga, semakin
banyak jumlah uang yang beredar.
2.
Semakin tinggi pendapatan
masyarakat, semakin banyak uang yang beredar karena semakin sering melakukan
transaksi.
3.
Semakin banyak (padat) jumlah
penduduk, semakin banyak dan semakin cepat uang beredar.
4.
Keadaan geografis di perkotaan
lebih cepat dan lebih banyak jumlah uang yang beredar dibanding di pedesaan.
5.
Struktur ekonomi, negara
agraris berbeda dengan negara industri, negara industri peredaran uang lebih
cepat dan lebih banyak.
6.
Penguasaan IPTEK penduduk.
Iptek negara yang lebih maju lebih banyak dan lebih cepat uang beredar
dibandingkan dengan negara yang menerapkan teknologi yang sederhana.
7.
Globalisasi industri di
lingkungan dunia usaha. Semakin global dan arus modal ekonomi antarnegara yang
semakin meningkat, uang yang beredar juga dipengaruhi oleh transaksi-transaksi
internasional dalam hal ini kurs uang mempengaruhi peredaran.
Keseimbangan umum merefleksikan suatu relasi antara keseimbangan di suatu
pasar dengan keseimbangan di pasar-pasar lainnya. Hubungan realasional ini
dapat dipahami melalui suatu analisis yang kemudian dikenal dengan istilah
analisis keseimbangan umum. Dari analisis ini akan diketahui adanya implikasi
disequilibrium di suatu pasar terhadap pasar yang lain. Dengan demikian,
analisis keseimbangan umum berusaha untuk menunjukkan adanya keterkaitan antar
pasar. Setiap perubahan di suatu pasar akan cenderung berpengaruh secara
“positif” atau “negatif” terhadap pasar yang lain. Sebagai dampak perubahan
teknologi komputer, mislanya, maka biaya produksi terhadap baang-barang
berteknologi tinggi menurun mengikuti irama pertumbuhan penggunaan komputer
secara besar-besaran dalam memproduksi barang-barang tersebut. Sebaliknya,
maraknya penggunaan komputer akan berimplikasi terhadap kenaikan penawaran, dan
begitu seterusnya
Analisis keseimbangan umum itu sendiri menjelaskan keterkaitan keseimbangan
yang terjadi di suatu pasar terhadap keseimbangan di pasar-pasar lainnya.
Dengan analisis ini kemudian bisa diketahui dampak adanya gangguan keseimbangan
(disequilibirium) di suatu pasar terhadap pasar lain. Adanya kenaikan harga
input tenaga kerja akan berpengaruh terhadap pasar tenaga kerja dan pasar
komoditas, baik komoditas yang yang banyak menggunakan banyak tenaga kerja
ataupun yang tidak tidak. Demikian pula, pola analisis keseimbangan umum ini
bisa dikembangkan untuk menganalisis keterkaitan keseimbangan yang terjadi
antarkomoditas, antarsegmen ataupun antarpasar.
FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PENAWARAN UANG
( DRS.CB.
SUPARTOMO, MSI )
Banyak faktor yang mempengruhi
pergeseran kurva penawaran uang, antara lain tingkat bunga, tingkat inflasi,
pendapatan nasional serta nilai
tukar.
1.
Tingkat bunga.
Bunga merupakan imbal jasa atas pinjaman uang. Imbal jasa ini merupakan suatu
kompensasi kepada pemberi pinjaman atas manfaat kedepan dari uang pinjaman
tersebut apabila diinvestasikan. Persentase dari pokok utang yang dibayarkan
sebagai imbal jasa (bunga) dalam suatu periode tertentu disebut suku bunga.
Suku bunga tetap adalah suku bunga pinjaman yang tidak berubah sepanjang
masa kredit. Suku bunga mengambang adalah suku bunga yang berubah-ubah selama
masa kredit berlangsung dengan mengikuti suatu kurs referensi tertentu seperti
misalnya LIBOR dimana cara
perhitungannya dengan menggunakan sistem penambahan marjin terhadap kurs
referensi. Tingkat bunga merupakan faktor utama yang mempengaruhi jumlah uang yang beredar dalam
perekonomian. Tingginya tingkat bunga menyebabkan biaya produksi meningkat yang pada
gilirannya menyebabkan dunia usaha menjadi lesu.
2. Tingkat
inflasi.
Inflasi dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu tarikan
permintaan (kelebihan likuiditas/alat tukar) dan yang kedua adalah tekanan
produksi dan atau distribusi. Inflasi tarikan permintaan (demand pull
inflation) lebih dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan moneter yang
dilakukan bank sentral. Inflasi ini terjadi akibat adanya permintaan total yang
berlebihan yang biasanya dipicu oleh membanjirnya likuiditas di pasar sehingga
terjadi permintaan yang tinggi dan memicu perubahan pada tingkat harga.
Bertambahnya volume alat tukar atau likuiditas yang terkait dengan permintaan
terhadap barang dan jasa mengakibatkan bertambahnya permintaan terhadap
faktor-faktor produksi tersebut. Meningkatnya permintaan terhadap faktor
produksi itu menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Jadi, inflasi ini terjadi karena suatu
kenaikan dalam permintaan total sewaktu perekonomian yang bersangkutan dalam
situasi full employment dimana biasanya lebih disebabkan oleh rangsangan
volume likuiditas dipasar yang berlebihan. Membanjirnya likuiditas di pasar
juga disebabkan oleh banyak faktor selain yang utama tentunya kemampuan bank
sentral dalam mengatur peredaran jumlah uang, kebijakan suku bunga bank
sentral, sampai dengan aksi spekulasi yang terjadi di sektor industri keuangan.
Sementara itu inflasi tekanan produksi (cost
push inflation ) diakibatkan kurangnya produksi dan keterbatasan
distribusi. Inflasi ini dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan
eksekutor yang dalam hal ini dipegang oleh pemerintah seperti fiskal,
perpajakan, kebijakan pembangunan infrastruktur, regulasi, dan lain sebagainya.
Inflasi ini terjadi akibat adanya kelangkaan produksi dan/atau juga termasuk
adanya kelangkaan distribusi, walaupun permintaan secara umum tidak ada
perubahan yang meningkat secara signifikan. Adanya ketidaklancaran aliran
distribusi ini atau berkurangnya produksi yang tersedia dari rata-rata
permintaan normal dapat memicu kenaikan harga sesuai dengan berlakunya hukum
permintaan-penawaran, atau juga karena terbentuknya posisi nilai keekonomian yang
baru terhadap produk tersebut akibat pola atau skala distribusi yang baru.
3. Pendapatan
Nasional.
Permintaan agregat menunjukkan hubungan antara
keseluruhan permintaan terhadap barang-barang dan jasa sesuai dengan tingkat
harga. Permintaan agregat adalah suatu daftar dari keseluruhan barang dan jasa
yang akan dibeli oleh sektor-sektor ekonomi pada berbagai tingkat harga,
sedangkan penawaran agregat menunjukkan hubungan antara keseluruhan penawaran
barang-barang dan jasa yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan dengan
tingkat harga tertentu. Konsumsi merupakan salah satu faktor yang memengaruhi
pendapatan nasional Jika terjadi perubahan permintaan atau penawaran agregat,
maka perubahan tersebut akan menimbulkan perubahan-perubahan pada tingkat harga,
tingkat pengangguran dan tingkat kegiatan ekonomi secara keseluruhan.
Adanya kenaikan pada permintaan agregat cenderung
mengakibatkan kenaikan tingkat harga dan pendapatan nasional, yang selanjutnya
akan mengurangi tingkat pengangguran. Penurunan pada tingkat penawaran agregat
cenderung menaikkan harga, tetapi akan menurunkan pendapatan nasional dan
menambah pengangguran. Bila pendapatan nasional rendah,
pemerintah mungkin akan memperbanyak
jumlah uang yang beredar dengan tujuan
untuk menggairahkan dunia perbankan dan dunia usaha (melalui peningkatan suku
bunga dan peningkatan harga).
4.
Nilai tukar
rupiah.
Jika nilai tukar rupiah menurun, pemerintah akan menurunkan jumlah rupiah
yang beredar, sehingga sesuai hukum keseimbangan permintaan dan penawaran. Tingkat
bunga akan naik dan nilai rupiah pun terangkat. Nilai tukar yang berdasarkan
pada kekuatan pasar akan selalu berubah disetiap kali nilai-nilai salah satu
dari dua komponen mata uang berubah. Sebuah mata uang akan cenderung menjadi
lebih berharga bila permintaan menjadi lebih besar dari pasokan yang tersedia.
Nilai akan menjadi berkurang bila permintaan kurang dari penawaran yang
tersedia. Peningkatan permintaan terhadap mata uang adalah yang terbaik karena
dengan meningkatnya permintaan untuk transaksi uang, atau mungkin adanya
peningkatan permintaan uang yang spekulatif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar